HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Ditutup Anjlok 1,70 Persen ke Level 5.839,78, Tekanan Sentimen Negatif dan Aksi Jual Masih Mendominasi

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

IHSG Ditutup Anjlok 1,70 Persen ke Level 5.839,78, Tekanan Sentimen Negatif dan Aksi Jual Masih Mendominasi
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, ditutup melemah 101,28 poin atau 1,70 persen ke level 5.839,78 setelah sepanjang perdagangan berada di bawah tekanan sentimen domestik, global, dan faktor teknikal.

IHSG bahkan sempat turun tajam hingga menyentuh level terendah harian di 5.644 sebelum berhasil memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan perdagangan.

Nilai tukar rupiah turut mengalami pelemahan pada hari yang sama dengan penurunan sekitar 0,46 persen terhadap dolar Amerika Serikat hingga berada di level Rp18.049 per dolar AS.

Pelemahan rupiah tersebut ikut menambah tekanan terhadap pasar saham domestik di tengah rendahnya kepercayaan investor.

Rumor Pasar dan Ketidakpastian Ekonomi Bebani IHSG

Kepala Riset Phintraco Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipengaruhi maraknya berbagai rumor di pasar domestik yang muncul di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dan pasar.

Ia mengatakan, "Tekanan jual berlanjut dari perdagangan sehari sebelumnya akibat maraknya berbagai macam rumor di pasar domestik di tengah ketidakpastian yang tinggi serta rendahnya kepercayaan investor."

Menurutnya, tekanan jual yang berlanjut dari perdagangan sebelumnya menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan indeks pada perdagangan hari itu.

Di kawasan Asia, mayoritas indeks saham juga bergerak di zona merah akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, kenaikan harga minyak dunia, serta kekhawatiran terhadap peningkatan inflasi global.

Dari sisi teknikal, indikator pasar menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat.

Sinyal tersebut terlihat dari pelebaran histogram negatif pada indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) dan terbentuknya pola death cross pada Stochastic RSI.

Berdasarkan analisis tersebut, IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif dan berpotensi kembali menguji area support pada kisaran 5.700 hingga 5.800.

Pelemahan Rupiah, Dana Asing Keluar, dan Panic Selling Perparah Koreksi

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai penurunan IHSG dipicu oleh kombinasi berbagai sentimen negatif yang muncul secara bersamaan.

Faktor yang memengaruhi pasar antara lain pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS, berlanjutnya arus keluar dana asing dari pasar saham dan pasar surat berharga negara, serta sentimen negatif terkait outlook Moody's terhadap Danantara.

Elandry mengatakan, "Di saat yang sama, pasar juga mendapat sentimen negatif dari outlook Moody's terhadap Danantara."

Selain itu, pasar juga dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan tarif terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai berpotensi menekan sejumlah sektor ekspor Indonesia.

Menurut Elandry, tekanan pasar semakin besar akibat faktor teknikal yang mempercepat aksi jual investor.

Ia menjelaskan, "Kombinasi berbagai sentimen negatif tersebut kemudian diperparah oleh faktor teknikal berupa panic selling dan efek margin call, sehingga aksi jual semakin besar dan membuat penurunan IHSG menjadi lebih dalam pada perdagangan hari ini."

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor saham ditutup di zona merah pada perdagangan tersebut.

Sektor industri mencatat pelemahan terdalam dengan penurunan 4,07 persen.

Sektor properti turun 3,28 persen.

Sektor barang konsumsi primer melemah 2,36 persen.

Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,29 juta kali.

Volume perdagangan mencapai 39,68 miliar lembar saham.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp25,53 triliun.

Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 106 saham menguat, 623 saham melemah, dan 85 saham ditutup tidak berubah.

Penulis :
Arian Mesa