HOME  ⁄  Ekonomi

Analis Dorong Respons Terkoordinasi untuk Pulihkan Rupiah dan IHSG yang Terus Tertekan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Analis Dorong Respons Terkoordinasi untuk Pulihkan Rupiah dan IHSG yang Terus Tertekan
Foto: (Sumber : Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS, terpengaruh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang lebih lama. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye.)

Pantau - Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M Nafan Aji Gusta menilai diperlukan respons terkoordinasi dari berbagai otoritas guna memulihkan kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah pelemahan rupiah serta koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Nilai tukar rupiah pada Kamis tercatat melemah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, sementara IHSG turun 3,48 persen pada penutupan sesi pertama perdagangan.

Menurut Nafan, kondisi tersebut memerlukan langkah cepat dan terukur dari pemerintah maupun regulator agar tekanan terhadap pasar keuangan tidak semakin dalam.

BI hingga Pemerintah Dinilai Perlu Bergerak Bersama

Nafan mengatakan Bank Indonesia perlu meningkatkan intervensi di pasar valuta asing dan Surat Berharga Negara (SBN) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pada saat yang sama, pemerintah dinilai perlu memperkuat kebijakan insentif Devisa Hasil Ekspor (DHE) agar pasokan devisa di dalam negeri meningkat.

Selain itu, Danantara juga didorong memberikan penjelasan yang lebih jelas terkait kebijakan operasional dan isu sektoral yang berkembang untuk mengurangi ketidakpastian di pasar.

Kementerian BUMN dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga dinilai perlu mengoptimalkan peran pembeli siaga (standby buyer) serta program pembelian kembali saham atau buyback BUMN guna menjaga likuiditas dan kepercayaan investor.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) disebut perlu menerapkan mekanisme auto rejection simetris maupun asimetris secara terukur untuk meredam volatilitas pasar yang berlebihan.

Tekanan Pasar Dipicu Sentimen Domestik dan Global

Dalam analisis teknikalnya, Nafan menyebut IHSG saat ini berada pada kondisi extremely oversold berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI), meski tren penurunan masih berlangsung.

Ia juga mencatat aksi jual investor asing masih menjadi faktor utama tekanan pasar.

Pada perdagangan Rabu (3/6), investor asing membukukan net sell sekitar Rp864 miliar yang membebani sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Sentimen negatif juga muncul setelah Moody's memberikan peringkat Baa2 atau investment grade kepada Danantara Investment Management (DIM) dengan prospek negatif.

Menurut Nafan, prospek negatif tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan peringkat di masa mendatang sehingga mendorong aksi jual investor.

Pasar Tunggu Sentimen Global dan Rebalancing FTSE

Selain faktor domestik, pelaku pasar juga mencermati proses rebalancing indeks global FTSE Russell yang akan efektif pada 22 Juni 2026.

Penyesuaian indeks tersebut berpotensi memengaruhi aliran dana asing yang melakukan perubahan portofolio investasi.

Dari eksternal, meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut meningkatkan persepsi risiko investor global.

Pasar juga menantikan rilis data US Nonfarm Payrolls periode Mei yang diperkirakan memengaruhi ekspektasi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan.

Penulis :
Ahmad Yusuf