HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.049 per Dolar AS, Dibayangi Ketegangan Geopolitik dan Sentimen Domestik

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.049 per Dolar AS, Dibayangi Ketegangan Geopolitik dan Sentimen Domestik
Foto: Ilustrasi - Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan (sumber: ANTARA FOTO/Hasrul Said)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis sore ditutup melemah 0,46 persen ke level Rp18.049 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.966 per dolar AS, seiring kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pergerakan mata uang Indonesia.

Ketegangan Global Picu Sikap Hati-hati Investor

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, "pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pergerakan rupiah."

Dari faktor eksternal, investor cenderung bersikap hati-hati akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran di pasar keuangan global.

Ibrahim mengungkapkan, "Washington mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon pada Rabu malam, meskipun kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah."

Meski terdapat upaya gencatan senjata, ketegangan kawasan meningkat setelah muncul laporan mengenai serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain serta serangan Amerika Serikat terhadap Pulau Qeshm di Iran yang berada dekat Selat Hormuz.

Israel juga dilaporkan memperluas operasi militernya di Lebanon bagian selatan dengan menargetkan wilayah yang dikuasai Hizbullah.

Di Amerika Serikat, DPR yang dikuasai Partai Republik menyetujui resolusi untuk membatasi Presiden Donald Trump melanjutkan konflik militer dengan Iran.

Namun, resolusi tersebut masih harus mendapatkan persetujuan Senat, memperoleh dukungan mayoritas dua pertiga suara di kedua kamar, serta mengatasi kemungkinan veto presiden agar dapat berlaku.

Pelaku pasar juga menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat dengan fokus utama pada laporan non-farm payrolls yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat.

Harga Minyak dan Outlook Danantara Jadi Sorotan

Dari sisi domestik, pasar mengkhawatirkan dampak lonjakan harga minyak mentah terhadap kondisi fiskal dan sektor eksternal Indonesia.

Menurut Ibrahim, harga minyak yang tinggi berpotensi mendorong defisit fiskal mendekati batas 3 persen serta menekan neraca eksternal Indonesia.

Pasar juga mencermati kemungkinan meningkatnya intervensi pemerintah di sektor komoditas dan belum adanya kepastian status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.

Data perdagangan April menunjukkan surplus neraca perdagangan Indonesia mulai menyusut karena kenaikan impor minyak lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor.

Inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat meningkat menjadi 3,08 persen dan telah melampaui titik tengah target Bank Indonesia.

Kenaikan inflasi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya harga barang impor di tengah pelemahan nilai tukar dan tekanan harga global.

Sentimen lain berasal dari pemeringkatan PT Danantara Investment Management oleh Moody’s Ratings yang memberikan peringkat Baa2 untuk program global medium-term note yang akan diterbitkan perusahaan tersebut.

Meski memberikan peringkat investasi, Moody’s menetapkan prospek atau outlook negatif terhadap Danantara Investment Management.

Moody’s menilai outlook negatif tersebut mencerminkan keterkaitan yang kuat antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan Pemerintah Indonesia sebagai pemegang saham penuh.

Ibrahim menjelaskan, "Dalam jangka panjang, peringkat tersebut kemungkinan akan bergerak sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia. Peringkat Danantara Investment Management bisa turun, jika peringkat soveregin Indonesia melemah."

Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah pada kisaran Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS.

Pergerakan rupiah ke depan diperkirakan dipengaruhi oleh perkembangan ketegangan geopolitik global, data ekonomi Amerika Serikat, harga minyak dunia, kondisi fiskal Indonesia, serta sentimen pasar terhadap investasi dan peringkat kredit Indonesia.

Penulis :
Leon Weldrick