HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.188 per Dolar AS, Terseret Gejolak Timur Tengah dan Kuatnya Data Ekonomi Amerika

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.188 per Dolar AS, Terseret Gejolak Timur Tengah dan Kuatnya Data Ekonomi Amerika
Foto: Karyawan memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu 3/6/2026 (sumber: ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Pantau - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 152 poin atau 0,84 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (8/6/2026), dengan kurs berada di level Rp18.188 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.036 per dolar AS.

Pelemahan rupiah juga tercermin pada kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang berada di level Rp18.171 per dolar AS pada Senin (8/6/2026), lebih lemah dibandingkan posisi sebelumnya di Rp18.039 per dolar AS.

Konflik Timur Tengah Tekan Sentimen Pasar

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah serangan Israel terhadap Iran.

Ia mengungkapkan, "Suara ledakan terdengar di Teheran, Tabriz, dan Isfahan, mengikis harapan akan segera berakhirnya perang yang lebih luas dan dimulainya kembali aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz."

Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah kota di Iran, yakni Teheran, Tabriz, dan Isfahan.

Israel menyatakan telah menyerang fasilitas petrokimia di wilayah barat daya Iran serta sejumlah target militer lainnya.

Serangan tersebut berlangsung meskipun Presiden AS Donald Trump dilaporkan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri dari serangan lanjutan.

Sebagai respons atas serangan Israel ke Lebanon, Iran disebut meluncurkan rentetan rudal ke sejumlah target di Israel.

Trump tetap meyakini peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Sebelumnya, kantor Perdana Menteri Israel menyatakan militer Israel menyerang wilayah pinggiran selatan Beirut, Lebanon.

Serangan itu disebut sebagai balasan atas penembakan yang dilakukan kelompok Hizbullah.

Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), serangan udara Israel menghantam dua apartemen di kawasan permukiman.

Tidak ada laporan korban jiwa akibat serangan tersebut.

Hizbullah menyatakan serangan mereka merupakan respons terhadap operasi militer Israel yang terus berlangsung di Lebanon selatan.

Kelompok itu juga menilai Israel masih mempertahankan kendali militer di sejumlah wilayah perbatasan.

Iran disebut menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai salah satu syarat tercapainya kesepakatan damai dengan Washington.

Data Tenaga Kerja AS Perkuat Dolar

Selain faktor geopolitik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan pasar.

Data non-farm payrolls (NFP) AS pada Mei 2026 mencatat penambahan 172 ribu lapangan kerja.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar yang berada di level 85 ribu lapangan kerja.

Data NFP April 2026 juga direvisi naik menjadi 179 ribu lapangan kerja dari sebelumnya 115 ribu lapangan kerja.

Sementara itu, tingkat pengangguran AS tetap berada di level 4,3 persen.

Menurut Ibrahim Assuaibi, data tenaga kerja yang kuat memperbesar peluang Federal Reserve System (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi.

Ia mengatakan, "Laporan NFP yang lebih kuat dari perkiraan mendukung argumen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah atau bahkan menaikkannya karena para pejabat menilai dampak inflasi dari harga energi yang lebih tinggi."

Ekspektasi suku bunga tinggi di AS umumnya memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah pada perdagangan Senin dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal berupa memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah dan kuatnya data ekonomi AS yang mendorong penguatan dolar AS.

Penulis :
Shila Glorya