
Pantau - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan akan melakukan intervensi jaring pengaman harga ayam ras pedaging hidup guna menjaga stabilitas harga di tingkat peternak, melindungi keberlanjutan usaha perunggasan nasional, serta memastikan harga tetap menguntungkan produsen dan terjangkau bagi masyarakat.
Pemerintah Siapkan Langkah Stabilisasi Harga
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan pemerintah akan melakukan intervensi ketika harga ayam hidup turun terlalu rendah maupun naik terlalu tinggi.
Ia mengungkapkan, “Begitu harganya turun kita harus naikkan kembali. Begitu harganya naik, kita turunkan kembali. Ini karena apa? Karena bagaimanapun kita ini negara produsen. Kita ingin swasembada. Tentu harga-harga di tingkat produsen jangan sampai terlalu rendah.”
Pemerintah terus menindaklanjuti aspirasi peternak unggas terkait harga ayam ras pedaging hidup yang masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP).
Menurut Ketut, sebagai negara produsen daging ayam ras, Indonesia perlu menjaga harga di tingkat peternak agar tetap berada pada tingkat yang wajar.
Berdasarkan pemantauan Bapanas hingga 8 Juni 2026, rata-rata harga ayam ras pedaging hidup di tingkat peternak secara nasional mencapai Rp22.382 per kilogram.
Angka tersebut masih sekitar 10,47 persen di bawah HAP yang ditetapkan sebesar Rp25.000 per kilogram.
Dibandingkan sebulan sebelumnya, harga ayam hidup juga turun sekitar 2,39 persen dari Rp22.930 per kilogram menjadi Rp22.382 per kilogram.
Ketut menjelaskan, “Kebetulan daging ayam ras di tingkat produsen juga mengalami penurunan. Tentu juga kita akan lakukan intervensi bersama-sama Direktorat Jenderal Perkebunan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.”
Pemerintah juga berkolaborasi dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia untuk mencari solusi atas penurunan harga di tingkat peternak.
Ia menyatakan, “Untuk mencarikan solusi sehingga sekali lagi harga yang rendah di tingkat produsen bisa kita tangani dengan baik.”
Penyerapan Bantuan Pangan dan Tren Deflasi Jadi Perhatian
Musyawarah pencarian solusi dilakukan secara kolaboratif untuk menjaga stabilitas harga di seluruh rantai ekosistem perunggasan dari hulu hingga hilir.
Salah satu opsi yang sedang dikaji pemerintah adalah penyerapan daging ayam melalui program bantuan pangan pemerintah yang sebelumnya pernah diterapkan pada 2023 dan 2024 melalui ID FOOD.
Dalam program tersebut, Bapanas menugaskan ID FOOD melalui Kementerian BUMN untuk menyalurkan bantuan pangan penanganan stunting kepada 1,4 juta keluarga berupa 1 kilogram daging ayam dan 10 butir telur ayam selama tiga bulan.
Pada 2024, sebanyak 8,6 juta paket pangan berhasil disalurkan di Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Selama dua tahun berturut-turut, ID FOOD mendistribusikan lebih dari 15 juta paket bantuan pangan untuk penanganan stunting.
Dalam pelaksanaannya pada 2024, ID FOOD bermitra dengan 8.778 peternak yang terdiri atas 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan sektor perunggasan juga mengalami tekanan harga dengan daging ayam ras mencatat deflasi sebesar 3,83 persen pada Mei 2026.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi BPS, Pudji Ismartini, mengatakan, “Daging ayam ras juga mengalami jumlah kabupaten kota yang mengalami kenaikan harga daging ayam ras bertambah di minggu pertama Juni 2026 ini, sudah sebanyak 85 kabupaten kota.”
Ia menambahkan, “Beberapa kabupaten kota walaupun mengalami kenaikan atau perubahan IPH (Indeks Perkembangan Harga) tetapi masih berada di bawah HAP-nya.”
Berdasarkan data BPS, daging ayam ras masih mengalami inflasi bulanan sebesar 3,30 persen pada Maret 2026 sebelum berubah menjadi deflasi 6,20 persen pada April 2026 dan kembali mencatat deflasi 3,83 persen pada Mei 2026.
- Penulis :
- Shila Glorya





