HOME  ⁄  Ekonomi

Hilirisasi Tembakau di Dompu Didorong untuk Tingkatkan Nilai Tambah dan Perkuat Ekonomi Lokal

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Hilirisasi Tembakau di Dompu Didorong untuk Tingkatkan Nilai Tambah dan Perkuat Ekonomi Lokal
Foto: (Sumber : Petani merawat tanaman tembakau di Desa Kadindi Barat, Kecamatan Pekal, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. ANTARA/Ady Ardiansah.)

Pantau - Upaya hilirisasi tembakau di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, terus didorong untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, memperbesar perputaran ekonomi daerah, serta membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Petani Mulai Mengembangkan Industri Pengolahan Mandiri

Salah seorang petani tembakau di Dompu, Muhammad Junaidi, menilai pengolahan hasil tembakau menjadi produk jadi dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan hanya menjual bahan baku.

Ia mengungkapkan bahwa selama ini sebagian besar tembakau Dompu dipasarkan sebagai bahan baku industri di luar daerah sehingga nilai ekonomi yang diterima petani dan daerah masih terbatas.

Sejak 2025, Junaidi merintis rumah produksi yang mengolah tembakau menjadi tembakau iris dan rokok kretek skala kecil dengan mempekerjakan 18 orang, terdiri atas tenaga penggiling dan pengemasan.

Dalam satu musim tanam, ia mengelola sekitar 20.000 pohon tembakau di lahan seluas satu hektare dengan produksi mencapai 1,8 hingga 2 ton tembakau kering dan omzet sekitar Rp60 juta per musim.

Potensi Besar Dorong Hilirisasi di Kabupaten Dompu

Kabupaten Dompu memiliki sekitar 600 hektare lahan tembakau dengan produksi lebih dari 1.100 ton per tahun sehingga dinilai memiliki modal kuat untuk mengembangkan industri hasil tembakau di tingkat lokal.

Kecamatan Pekat menjadi salah satu sentra produksi utama dengan luas tanam mencapai 192 hektare dan produksi lebih dari 346 ton pada 2025.

Para petani yang jumlahnya sekitar 6.000 orang berharap pemerintah terus mendorong pengembangan industri pengolahan hasil tembakau agar nilai ekonomi tidak berhenti pada budidaya, melainkan berlanjut hingga proses hilirisasi dan pemasaran produk jadi.

Penulis :
Aditya Yohan