
Pantau - PT Kereta Api Indonesia (Persero) memfokuskan pengujian teknis penggunaan biodiesel B50 pada performa mesin, konsumsi bahan bakar, emisi, dan ketahanan sarana untuk memastikan keselamatan, keandalan operasional, serta kelancaran layanan transportasi yang berkelanjutan.
Pengujian B50 Dilakukan Bertahap
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengungkapkan, “Setiap tahapan perlu diuji agar sesuai dengan karakter operasional kereta api yang memiliki beban, durasi operasi, dan standar keandalan sarana yang tinggi.”
Ia juga menyatakan, “Pada saat yang sama, kami memastikan setiap tahapan penggunaan biodiesel berjalan melalui pengujian teknis dan evaluasi agar layanan kepada pelanggan serta sektor logistik tetap aman dan andal.”
KAI bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memulai tahapan uji teknis penggunaan B50 sejak April 2026 dengan melibatkan lokomotif dan genset kereta api untuk mengukur performa, konsumsi bahan bakar, emisi, serta ketahanan sarana dalam kondisi operasional.
Pengujian lokomotif menggunakan CC206 dengan rangkaian KA Sembrani dimulai dari Depo Sidotopo melalui perbandingan konsumsi bahan bakar B40 dan B50.
Sementara itu, pengujian genset dilakukan pada MTU 2000 P02411 di KA Bogowonto di Depo Kereta Yogyakarta dengan rangkaian uji performa, konsumsi bahan bakar, emisi, serta ketahanan statis selama enam jam dan dilanjutkan uji ketahanan dinamis selama 2.400 jam di PUK Lempuyangan mulai 27 April 2026.
Target Kurangi Emisi dan Jaga Keselamatan Operasi
Pada Juni 2026, KAI memasuki tahap pemantauan dan evaluasi teknis terhadap hasil pengujian sebelum implementasi B50 diperluas ke operasional yang lebih luas.
Anne menegaskan, “Prinsip kami jelas, transisi energi harus berjalan sejalan dengan keselamatan dan keandalan operasi.”
Program transisi dari B35 menuju B50 menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi KAI 2025–2030 yang ditargetkan mampu menurunkan emisi sebesar 133.676 ton CO2e sebagai kontributor terbesar dalam target pengurangan emisi perusahaan.
Anne mengatakan, “Pendekatan pengukuran ini memperkuat transparansi KAI dalam memantau dampak lingkungan dari layanan transportasi berbasis rel.”
KAI juga terus memperkuat pengukuran jejak karbon berbasis data, termasuk melalui penilaian Life Cycle Assessment bersama BRIN yang mencatat operasional KRL Jabodetabek menghasilkan jejak karbon sekitar 34,03 gram CO2e per penumpang-kilometer.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





