
Pantau - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu sore ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.762 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.725 per dolar AS, di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan geopolitik global dan kebijakan moneter bank sentral.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Pasar Tunggu Kepastian Hubungan AS-Iran dan Hasil Rapat The Fed
Dari faktor eksternal, pasar mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang memunculkan optimisme terkait potensi kesepakatan untuk meredakan konflik di Timur Tengah.
Ibrahim mengungkapkan, "Kesepakatan tersebut, yang mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran untuk melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata sementara negosiasi berlanjut."
Meski demikian, tingkat ketidakpastian masih dinilai tinggi karena pemulihan produksi energi diperkirakan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Ketidakpastian juga dipicu oleh belum adanya dukungan penuh dari Israel terhadap kesepakatan tersebut.
Selain itu, pasar masih meragukan keberlanjutan gencatan senjata yang tengah berlangsung.
Pelaku pasar juga menunggu hasil rapat kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level saat ini.
Investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru, arah kebijakan moneter ke depan, peluang penurunan suku bunga pada akhir tahun, serta hasil dot plot yang mencerminkan pandangan para pembuat kebijakan terkait suku bunga.
Ibrahim mengatakan, "Bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah, tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan apa yang disebut 'plot titik' untuk petunjuk tentang jalur kebijakan di masa depan. Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun tentang apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran di akhir tahun ini."
RDG Bank Indonesia Jadi Sorotan Pasar
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026.
RDG tersebut menjadi sorotan karena dalam beberapa kesempatan terakhir Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.
Menurut Ibrahim, langkah pengetatan kebijakan moneter tersebut menunjukkan komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.
Selain faktor moneter, Indonesia dinilai memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Kesiapan tersebut didukung oleh kebijakan diversifikasi sumber impor minyak mentah melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok lainnya.
Ibrahim menjelaskan, "Langkah diversifikasi sumber pasokan minyak dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Dengan strategi tersebut, Indonesia memiliki alternatif sumber impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri."
Strategi diversifikasi tersebut dinilai mampu menjaga ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan pada satu kawasan pemasok, meminimalkan risiko gangguan pasokan akibat konflik geopolitik, serta menjamin ketersediaan minyak untuk kebutuhan domestik.
Untuk perdagangan Kamis (18/6/2026), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi kembali ditutup melemah pada kisaran Rp17.760 hingga Rp17.800 per dolar AS.
- Penulis :
- Shila Glorya






