
Pantau - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan program B50 siap diimplementasikan mulai 1 Juli 2026 dan ditargetkan mampu mengurangi bahkan menghentikan impor solar jenis C48.
Bahlil mengungkapkan, "Insya Allah, kami sangat optimis untuk implementasi perilisan B50 itu akan dilakukan nanti di 1 Juli. Dengan demikian, itu akan mengurangi atau bahkan kita tidak lagi melakukan impor solar, khususnya C48."
Pemerintah memastikan seluruh aspek teknis implementasi B50 telah melalui tahap pengujian dan menunjukkan hasil yang baik pada berbagai sektor penggunaan.
Berdasarkan hasil pengujian terbaru, kadar air pada B50 tercatat lebih rendah dibandingkan B40 sehingga dinilai memiliki performa yang lebih baik.
Uji Coba Dilakukan pada Berbagai Sektor
B50 telah diuji pada berbagai jenis kendaraan dan peralatan sejak rangkaian pengujian dimulai pada tahun 2025.
Uji coba dilakukan pada alat berat, kapal, kereta api, kendaraan pertambangan, ekskavator, serta alat dan mesin pertanian.
Uji teknis B50 untuk sektor otomotif dimulai pada 2 Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada Juni 2026.
Pemerintah juga masih melaksanakan uji teknis pada alat dan mesin pertanian, alat pertambangan, sektor perkeretaapian, serta pembangkit listrik.
Pengujian untuk sektor pertanian dan pertambangan ditargetkan selesai pada Semester II tahun 2026.
Meski sejumlah sektor masih menjalani tahapan pengujian, pemerintah memastikan implementasi B50 tetap dilakukan secara serentak mulai Juli 2026.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menegaskan, "Walaupun di beberapa sektor tahap uji teknisnya masih berjalan, tapi kami memastikan bahwa Implementasi ini akan dilakukan serentak."
Potensi Hemat Devisa dan Dorong Ekonomi
Pemerintah memperkirakan implementasi B50 dapat menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun pada tahun 2026.
Menurut Dwi Anggia, penghematan devisa tersebut berasal dari berkurangnya impor solar.
Nilai penghematan devisa pada 2026 diproyeksikan meningkat sekitar 17,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp133,3 triliun.
Selain itu, program B50 diperkirakan menciptakan nilai tambah bagi crude palm oil (CPO) sebesar Rp24,68 triliun.
Implementasi B50 juga berpotensi menyerap sekitar 2,21 juta tenaga kerja di berbagai sektor terkait.
Program tersebut diperkirakan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton.
Anggia menyatakan manfaat B50 tidak hanya memperbaiki neraca perdagangan nasional tetapi juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Program B50 menjadi salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan biodiesel berbasis kelapa sawit sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar solar.
- Penulis :
- Arian Mesa








