HOME  ⁄  Ekonomi

Menteri Keuangan Purbaya Sebut Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Lampaui Rata-rata G20 dan ASEAN

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Menteri Keuangan Purbaya Sebut Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Lampaui Rata-rata G20 dan ASEAN
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan kuliah umum di Nankai University, Tianjin, China, Jumat 19/6/2026 (sumber: Kementerian Keuangan)

Pantau - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui rata-rata pertumbuhan negara-negara G20 dan ASEAN, saat menyampaikan kuliah umum di Nankai University, Tianjin.

Ia mengungkapkan, "Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen yoy, mengungguli banyak negara G20 dan ASEAN. Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen".

Menurut Purbaya, capaian tersebut menunjukkan kinerja ekonomi Indonesia yang tetap kuat di tengah ketidakpastian global.

Kondisi ekonomi Indonesia pada awal 2026 ditandai oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat, inflasi yang terkendali, serta ketahanan kebijakan yang kredibel.

Ketahanan Ekonomi dan Energi Tetap Kuat

Purbaya menyoroti kemampuan Indonesia dalam menghadapi risiko gangguan energi global berdasarkan tingkat eksposur yang relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain.

Berdasarkan analisis yang dipaparkannya, Indonesia memiliki buffer atau bantalan ketahanan yang kuat dengan skor ketahanan energi mencapai 77 persen.

Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan China yang mencatat skor ketahanan energi sebesar 76 persen.

Ketahanan ekonomi Indonesia juga didukung oleh pengelolaan fiskal yang prudent atau hati-hati melalui kebijakan menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dengan defisit yang terkendali, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dinilai memiliki ruang yang cukup untuk menghadapi berbagai gejolak eksternal.

Sejumlah indikator domestik turut menunjukkan aktivitas ekonomi yang tetap solid.

PMI manufaktur Indonesia berada pada level ekspansif 50,0.

Pertumbuhan likuiditas perekonomian (M0) tercatat sebesar 14,8 persen yoy.

Pertumbuhan kredit perbankan mencapai 11,5 persen yoy.

Dari sisi eksternal, Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.

Cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai 144,9 miliar dolar AS atau setara 5,6 bulan impor.

Cadangan devisa tersebut juga dinilai memadai untuk membayar kewajiban utang luar negeri pemerintah.

Lapangan Kerja Bertambah dan Kemiskinan Menurun

Purbaya menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tercermin dari membaiknya kondisi pasar tenaga kerja sepanjang periode tersebut.

Sebanyak 1,9 juta lapangan kerja baru tercipta selama periode tersebut.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,68 persen pada 2026.

Dari sisi kesejahteraan masyarakat, tingkat kemiskinan menurun dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025.

Penurunan angka kemiskinan tersebut didukung oleh efektivitas program perlindungan sosial yang dijalankan pemerintah.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah menjalankan delapan klaster program prioritas nasional yang mencakup kedaulatan pangan, kemandirian energi, ketahanan air, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan menghadapi bencana.

Purbaya menjelaskan, "Prioritas tersebut mencakup fondasi ketahanan nasional: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana".

Pemerintah juga mempercepat transformasi struktural ekonomi melalui hilirisasi industri, industrialisasi, penguatan ekonomi kerakyatan, pembangunan pedesaan, serta pengentasan kemiskinan yang lebih mendalam.

Program pengentasan kemiskinan dilakukan melalui bantuan sosial dan penciptaan lapangan kerja yang terintegrasi.

Berbagai program pembangunan tersebut diperkuat oleh sektor pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, digitalisasi, serta diplomasi ekonomi.

Purbaya menegaskan, "Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, melainkan juga secara nyata bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan merata".

Penulis :
Arian Mesa