
Pantau - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat Gerakan Selamatkan Pangan (GSP) melalui kolaborasi multipihak guna menekan pemborosan pangan, memanfaatkan pangan berlebih, dan memperluas akses masyarakat terhadap pangan layak konsumsi.
Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas Nita Yulianis mengatakan masih banyak makanan layak konsumsi yang berakhir menjadi sampah, sementara di sisi lain terdapat masyarakat yang membutuhkan akses pangan yang cukup dan bergizi.
“Setiap hari, tidak sedikit makanan yang masih layak konsumsi berakhir menjadi sampah. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang membutuhkan akses pangan yang cukup dan bergizi,” kata Nita Yulianis.
Menurut Nita, kondisi tersebut mendorong penguatan Gerakan Selamatkan Pangan di berbagai daerah, termasuk Sulawesi Selatan, melalui kerja sama pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Semangat ini yang kami bawa dalam pertemuan koordinasi bertema 'Penguatan Kolaborasi Multipihak dalam Pencegahan dan Pengurangan Sisa Pangan melalui Implementasi Stop Boros Pangan di Sulawesi Selatan' yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Nita menyampaikan keberhasilan penyelamatan pangan sangat ditentukan oleh sinergi seluruh pihak yang terlibat dalam sistem pangan.
“Penanganan sisa pangan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat agar pangan berlebih yang masih layak konsumsi dapat dimanfaatkan secara optimal,” kata Nita.
Bapanas terus mendorong lima strategi utama dalam Gerakan Selamatkan Pangan.
Strategi tersebut meliputi penguatan konsepsi dan kerangka kerja penyelamatan pangan, penguatan kebijakan, implementasi aksi penyelamatan pangan, pengembangan kolaborasi multipihak, serta sinkronisasi program antara pemerintah pusat dan daerah.
Nita menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap gerakan penyelamatan pangan terus meningkat.
Hingga saat ini, sebanyak 17 provinsi dan 54 kabupaten atau kota telah memiliki instruksi maupun surat edaran kepala daerah sebagai bentuk dukungan terhadap Gerakan Selamatkan Pangan.
Bapanas juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang aktif melaporkan kegiatan penyelamatan pangan melalui platform Stop Boros Pangan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, Sulawesi Selatan pada 2026 menjadi salah satu daerah penerima manfaat mobil penyelamatan pangan.
“Kami harap fasilitas ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas jejaring kerja sama dengan sektor swasta maupun komunitas sehingga semakin banyak pangan berlebih yang dapat diselamatkan dan disalurkan kepada masyarakat,” kata Nita.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan Kemal Redindo Syahrul Putra mengatakan keberhasilan penyelamatan pangan membutuhkan sinergi pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menggandeng berbagai mitra seperti Baznas, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) dalam menjalankan program tersebut.
“Kolaborasi menjadi kunci dalam penyelamatan pangan. Tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendiri. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, pangan surplus yang masih aman dan layak konsumsi dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan sekaligus mengurangi potensi pemborosan pangan,” ujar Kemal.
Kemal menambahkan aspek keamanan pangan menjadi prioritas utama dalam setiap proses penyelamatan pangan.
Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan memiliki fasilitas mobil dan laboratorium keamanan pangan serta cold storage yang dapat dimanfaatkan bersama mitra perhotelan dan restoran.
“Kami juga membuka ruang kerja sama dengan mitra hotel, restoran, maupun komunitas untuk memanfaatkan fasilitas yang kami miliki. Keamanan pangan harus menjadi prioritas agar proses penyelamatan pangan dapat berjalan dengan baik dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan Suzana mengatakan pihaknya telah menjalankan kampanye penyelamatan pangan selama lima tahun terakhir melalui program Ego to Eco.
“Melalui pemasangan poster di hotel, restoran, kafe, dan kini juga di wihara-wihara, kami terus mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi pangan. Pencegahan harus dilakukan sebelum pangan berakhir menjadi sampah,” ujar Suzana.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





