HOME  ⁄  Ekonomi

Indonesia Didorong Perkuat Hilirisasi dan Diplomasi Ekonomi Hadapi Tantangan Pasca KTT G7

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Indonesia Didorong Perkuat Hilirisasi dan Diplomasi Ekonomi Hadapi Tantangan Pasca KTT G7
Foto: (Sumber :Bendera Kelompok G7, terdiri dari Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia dan Jepang. ANTARA/Anadolu/py.)

Pantau - Indonesia didorong memperkuat hilirisasi mineral kritis, diplomasi ekonomi, dan transisi energi sebagai langkah strategis menghadapi tantangan baru ekonomi dunia setelah KTT G7 2026 di Évian, Prancis.

Hilirisasi dan Standar Nasional Jadi Kunci

Dalam telaah yang ditulis Rioberto Sidauruk, Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok global masa depan, namun membutuhkan langkah yang lebih berani dan terukur.

Indonesia disebut perlu menetapkan standar nasional yang melampaui ekspektasi global, memperkuat posisi di forum Global South, serta mempercepat transisi energi guna menghadapi persaingan ekonomi hijau yang semakin ketat.

Menurut telaah tersebut, kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada kekayaan sumber daya alam, tetapi pada kemampuan mendefinisikan aturan main sendiri di tengah persaingan ekonomi dunia.

Apabila hilirisasi mineral kritis dijalankan dengan standar keberlanjutan yang kuat, Indonesia berpeluang menjadi penentu arah rantai pasok global dan bukan sekadar pemasok bahan mentah.

Telaah itu juga menegaskan bahwa masa depan ekonomi nasional ditentukan oleh kebijakan dalam negeri yang tepat sasaran dan keberanian mengambil peran kepemimpinan di tingkat global.

Diplomasi Ekonomi Perlu Lebih Agresif

Indonesia juga dinilai memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara negara berkembang dan negara maju dalam agenda pembangunan dan teknologi.

Karena itu, setiap perundingan bilateral diharapkan dapat menghasilkan transfer teknologi dan investasi nyata yang mendukung penguatan industri nasional.

Telaah tersebut menyoroti pentingnya mempertahankan politik luar negeri bebas aktif agar Indonesia tidak terjebak dalam persaingan antara blok Barat dan China.

Kemandirian diplomasi dinilai menjadi benteng penting untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah meningkatnya fragmentasi pasar global.

Selain itu, kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran pasca-KTT G7 disebut memberikan ruang bagi stabilitas ekonomi melalui meredanya volatilitas harga minyak dunia dan kembali terbukanya Selat Hormuz.

Kondisi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat konsolidasi fiskal dan melakukan restrukturisasi ekonomi ke arah yang lebih produktif.

Telaah itu menegaskan bahwa stabilitas global bersifat sementara sehingga penguatan diplomasi ekonomi dan kebijakan luar negeri yang mandiri tetap menjadi faktor utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Penulis :
Aditya Yohan