
Pantau - Kelompok kelas menengah Indonesia menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat di tengah kenaikan biaya hidup, stagnasi pendapatan, dan menyusutnya jumlah penduduk kelas menengah yang pada 2025 tercatat tinggal 46,7 juta jiwa atau 16,6 persen dari total populasi.
Kondisi tersebut tercermin dari berbagai upaya penghematan yang dilakukan para pekerja, mulai dari membawa bekal makan siang, menggunakan transportasi umum, hingga menekan pengeluaran harian untuk menjaga kondisi keuangan keluarga.
Kelas Menengah Jadi Penopang Ekonomi
Kelas menengah selama ini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional melalui konsumsi domestik, pembayaran pajak, serta aktivitas ekonomi di sektor jasa dan UMKM.
Kelompok ini juga dikenal sebagai masyarakat yang berupaya meningkatkan taraf hidup melalui pendidikan, pekerjaan, dan investasi masa depan.
Namun di tengah harapan untuk naik kelas secara ekonomi, mereka justru menghadapi tantangan berupa kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya perumahan, transportasi, hingga kebutuhan gaya hidup yang terus meningkat.
Dihadapkan pada Berbagai Tekanan Ekonomi
Para pekerja di kawasan perkotaan kini semakin selektif dalam mengatur pengeluaran sehari-hari.
Penggunaan transportasi publik yang padat, membawa bekal dari rumah, hingga membatasi konsumsi nonprimer menjadi strategi untuk menjaga daya beli.
Di sisi lain, dinamika ekonomi global dan kebijakan ekonomi domestik turut memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga kelas menengah.
Penurunan jumlah kelas menengah menjadi perhatian karena kelompok ini memiliki peran penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dan konsumsi nasional.
Kondisi tersebut menambah tantangan bagi masyarakat yang berada di lapisan ekonomi menengah untuk mempertahankan kualitas hidup sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
- Penulis :
- Aditya Yohan
- Editor :
- Aditya Yohan





