
Pantau - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan program hilirisasi mineral dan batu bara (minerba) yang dikembangkan di kawasan industri (KI) dan kawasan ekonomi khusus (KEK) telah meningkatkan efisiensi investasi, yang tercermin dari nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sekitar 3 atau jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata ICOR nasional yang berada di angka 6.
Hilirisasi Dorong Efisiensi Investasi
Airlangga mengatakan hilirisasi yang terintegrasi di kawasan industri dan KEK memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan produktivitas investasi.
"Kita lihat bahwa hilirisasi minerba yang seluruhnya masuk di Kawasan Industri (KI) ataupun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Bahkan di berbagai kawasan ini nilai ICOR-nya 3, jadi di bawah rata-rata ICOR yang 6. Jadi, itu relatif cukup baik," ungkapnya.
Airlangga menjelaskan industri pengolahan kini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi ekonomi melalui program hilirisasi mulai memberikan dampak yang lebih merata di berbagai daerah.
Pertumbuhan Ekonomi Tetap Kuat di Tengah Ketidakpastian Global
Airlangga menilai kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat meskipun dunia masih menghadapi ketidakpastian global.
Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), yang lebih tinggi dibandingkan sebagian besar negara anggota G20.
Menurut Airlangga, pertumbuhan tersebut didukung oleh konsumsi pemerintah yang kuat, permintaan rumah tangga yang tetap terjaga, serta aktivitas investasi yang terus berlanjut.
Ia menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap solid dalam menghadapi berbagai tekanan dari luar negeri.
Sejumlah indikator makroekonomi juga menunjukkan kondisi yang positif dengan tingkat inflasi sebesar 3,08 persen, cadangan devisa mencapai 144,9 miliar dolar AS, realisasi investasi sebesar Rp498,8 triliun, penyaluran kredit tumbuh 11,51 persen, serta neraca perdagangan yang mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut.
Pertumbuhan ekonomi juga terjadi secara relatif merata di berbagai wilayah Indonesia dengan Sulawesi mencatat pertumbuhan sebesar 6,95 persen serta Bali dan Nusa Tenggara mencapai 7,93 persen atau berada di atas rata-rata nasional.
Menurut Airlangga, capaian tersebut menunjukkan bahwa strategi hilirisasi serta pengembangan kawasan industri mulai menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah.
"Seluruh indikator ini menegaskan bahwa perekonomian Indonesia berdiri di atas fondasi yang sehat, resilien, dan siap melanjutkan momentum pertumbuhan. Namun, kita tetap harus menggenjot sektor-sektor yang menghasilkan devisa, misalnya sektor pariwisata," ia mengungkapkan.
- Penulis :
- Leon Weldrick





