HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp17.922 per Dolar AS, Sentimen Fiskal dan Intervensi BI Jadi Penopang

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Rupiah Menguat ke Rp17.922 per Dolar AS, Sentimen Fiskal dan Intervensi BI Jadi Penopang
Foto: Petugas perbankan menunjukan uang pecahan Rupiah dan dolar AS (sumber: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat sore menguat 21 poin atau 0,12 persen ke level Rp17.922 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.943 per dolar AS, didorong respons positif pasar terhadap langkah pemerintah menjaga stabilitas fiskal serta penguatan intervensi Bank Indonesia.

Langkah Fiskal Pemerintah Dorong Sentimen Positif

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah dipicu oleh respons positif pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah yang berupaya memperkuat kondisi keuangan negara dan menjaga defisit fiskal.

Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah ialah mempertimbangkan efisiensi dan pengurangan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN) pada APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) 2026 telah disesuaikan. Pagu anggaran MBG telah dipangkas dari rencana awal sebesar Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun," ungkapnya.

Berdasarkan penyesuaian terbaru, alokasi anggaran MBG kembali dipangkas menjadi sekitar Rp228,38 triliun.

Pemerintah juga mengkaji opsi pemotongan tambahan hingga Rp50 triliun sebagai bagian dari upaya memperkuat kondisi keuangan negara, merespons risiko ekonomi global, menjaga defisit fiskal, serta memperbaiki tata kelola program MBG.

Bank Indonesia Perkuat Intervensi Pasar

Di sisi lain, Bank Indonesia memperkuat intervensi pasar secara agresif melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Langkah tersebut dilakukan untuk meredam volatilitas nilai tukar rupiah serta mencegah depresiasi yang mendekati level Rp18 ribu per dolar AS.

"Apabila pelemahan masih berlanjut maka strategi yang dilakukan BI adalah menaikkan suku bunga acuan, meskipun bank sentral telah menaikkan 100 basis poin (bps) hanya dalam waktu dua bulan. Sedangkan yang dibutuhkan pasar saat ini adalah jangkar ekspektasi yang jelas bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama serta didukung koordinasi yang erat antarakebijakan moneter dan fiskal," ujar Ibrahim.

Menurut Ibrahim, Bank Indonesia juga perlu terus menegaskan konsistensi arah kebijakan, memastikan kecukupan cadangan devisa, menjaga instrumen stabilisasi tetap memadai, serta menunjukkan komitmen agar pelemahan rupiah tidak memicu lonjakan inflasi maupun mengganggu stabilitas sistem keuangan.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini melemah ke level Rp17.962 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.942 per dolar AS.

Penulis :
Shila Glorya