HOME  ⁄  Ekonomi

CORE Nilai Penurunan Harga BBM Non-Subsidi Dapat Ringankan Beban Masyarakat

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

CORE Nilai Penurunan Harga BBM Non-Subsidi Dapat Ringankan Beban Masyarakat
Foto: (Sumber:lustrasi - Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) pada kendaraan di salah satu SPBU. )

Pantau - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai rencana penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi akan membantu perekonomian masyarakat, terutama kelompok kelas menengah, seiring tren penurunan harga minyak mentah dunia.

Faisal mengatakan, "Jadi semestinya kalau harga minyak mentah dunia sekarang sekitar 70-an dolar AS per barel, bahkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) itu sudah 68 dolar per barel, mestinya (harga BBM non-subsidi) turun, dan ini juga akan membantu permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat konsumen di Indonesia terutama kaitannya dengan penurunan kelas menengah misalnya."

Menurut Faisal, harga BBM non-subsidi pada dasarnya bersifat floating sehingga mengikuti pergerakan harga minyak mentah internasional, berbeda dengan BBM bersubsidi yang penetapan harganya bergantung pada kebijakan pemerintah karena memperoleh subsidi.

Faisal mengatakan, "Menurut saya jangan berlama-lama, jadi semestinya juga dalam waktu dekat (harga BBM non-subsidi) itu sudah bisa diturunkan semestinya, karena pada dasarnya dia floating, jadi harus diturunkan, apalagi kalau kemudian nanti stabil artinya stabil terus di kisaran 70 dolar AS per barel maka sudah waktunya untuk diturunkan."

Pertamina Siapkan Pembahasan Penyesuaian Harga

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menyampaikan telah memberikan masukan kepada direksi agar mempersiapkan penurunan harga BBM non-subsidi secara bertahap mulai awal Juli 2026.

Rencana tersebut muncul setelah harga minyak mentah dunia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa waktu terakhir dengan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan pagi itu berada di level 71,533 dolar AS per barel, sedangkan Brent berada di level 74,835 dolar AS per barel.

Iriawan menyatakan pembahasan lebih lanjut akan dilakukan bersama direksi Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait potensi penyesuaian harga BBM non-subsidi.

Penyesuaian Harga Ikuti Prosedur

Iriawan menegaskan penyesuaian harga BBM tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat karena harus melalui sejumlah prosedur dan evaluasi.

Menurutnya, formula evaluasi berkala diterapkan sebagai instrumen untuk melindungi konsumen agar tidak terdampak langsung oleh volatilitas harga harian minyak mentah yang ekstrem.

Per 10 Juni 2026, harga BBM non-subsidi di SPBU mengalami perubahan dengan Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter, sedangkan Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) tetap Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) tetap Rp24.800 per liter.

Penulis :
Gerry Eka