HOME  ⁄  Ekonomi

Bappenas Sebut Capaian SDGs Indonesia Lampaui Asia Pasifik dan Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Bappenas Sebut Capaian SDGs Indonesia Lampaui Asia Pasifik dan Global
Foto: (Sumber :Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sekaligus Kepala Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali memparkan capaian SDGs Indonesia di Kota Padang, Senin, (29/6/2026). ANTARA/Muhammad Zulfikar.)

Pantau - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyatakan capaian indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia lebih baik dibandingkan rata-rata kawasan Asia Pasifik maupun tingkat global.

Capaian SDGs Indonesia Mencapai 62 Persen

Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sekaligus Kepala Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali mengatakan capaian SDGs Indonesia telah mencapai 62 persen.

Ia mengungkapkan, "Sebenarnya target SDGs kita sudah cukup baik kalau dibandingkan dengan catatan global. Global itu capaiannya 18 persen dan Asia Pasifik juga 18 persen."

Menurut Pungkas, sebanyak 13 indikator SDGs di Indonesia mengalami kemajuan, sementara sekitar 24 persen masih berada dalam kategori merah dan memerlukan perhatian lebih lanjut.

Ia menjelaskan, Indonesia kini menempati peringkat ke-77 dari 167 negara di dunia atau naik 25 peringkat dibandingkan posisi pada 2019.

Keberhasilan tersebut didukung oleh peningkatan akses listrik, layanan energi, pengelolaan ekosistem laut, serta kemajuan kemitraan yang berkontribusi terhadap implementasi SDGs di Indonesia.

Kemiskinan hingga Lingkungan Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Meski mencatat kemajuan, Bappenas menilai pengentasan kemiskinan masih menjadi tantangan utama yang harus segera diselesaikan.

Pungkas menyebut sejumlah persoalan yang masih membutuhkan perhatian, antara lain konsumsi pangan, tengkes (stunting), hingga praktik perdagangan orang.

Di Provinsi Sumatera Barat dan wilayah Pulau Sumatera, tantangan lain yang masih dihadapi meliputi kemiskinan, tengkes, angka kematian ibu dan bayi, akses pendidikan menengah serta pendidikan tinggi, hingga perlindungan terhadap perempuan.

Ia mengatakan, "Di pilar ekonomi, tenaga kerja informal, pengangguran, ketimpangan wilayah dan pembiayaan juga menjadi perhatian."

Selain itu, sektor lingkungan masih menghadapi berbagai persoalan seperti akses air minum yang aman, penyediaan hunian layak, pengelolaan sampah, limbah bahan berbahaya dan beracun, emisi gas rumah kaca, serta risiko bencana yang memerlukan penanganan berkelanjutan.

Penulis :
Aditya Yohan