
Pantau - Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center/JMIC) yang dipimpin Amerika Serikat menaikkan tingkat ancaman keamanan maritim di Selat Hormuz dari sedang menjadi substansial menyusul serangan terhadap kapal-kapal komersial di kawasan tersebut.
Ancaman Meningkat Setelah Serangan Kapal
Peningkatan status ancaman diumumkan melalui imbauan Operasi Perdagangan Maritim Kerajaan Inggris (United Kingdom Maritime Trade Operations/UKMTO) pada Sabtu (27/6).
JMIC juga memperingatkan para pelaut mengenai keberadaan ranjau di wilayah Selat Hormuz dan menyebut armada angkatan laut diperkirakan akan terus beroperasi selama proses pembersihan ranjau berlangsung.
Sebelumnya, pada 18 Juni, JMIC menurunkan tingkat ancaman menjadi sedang setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang mendorong pemulihan aktivitas pelayaran.
Namun, situasi kembali memanas setelah sebuah kapal kontainer dan kapal tanker minyak diserang masing-masing pada Kamis (25/6) dan Sabtu.
Komando Pusat Amerika Serikat (Central Command/CENTCOM) menyatakan pasukan AS melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal komersial di dekat Selat Hormuz sehari sebelumnya.
Jalur Pelayaran Diperlebar di Tengah Ketegangan
Meski terjadi peningkatan ancaman keamanan, data pelayaran internasional menunjukkan kapal-kapal komersial masih melintasi Selat Hormuz meskipun volume lalu lintas mengalami penurunan.
JMIC menyebut jalur pelayaran bagian selatan di Selat Hormuz yang berada dekat wilayah Oman dan didukung militer Amerika Serikat telah diperlebar untuk mengakomodasi arus kapal masuk dan keluar secara bersamaan.
Sementara itu, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran kembali menegaskan bahwa satu-satunya jalur yang diizinkan bagi kapal untuk melintasi Selat Hormuz adalah jalur yang telah diumumkan oleh otoritas Iran.
- Penulis :
- Aditya Yohan





