HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Ditutup Melemah 1,28 Persen, Kekhawatiran Geopolitik dan Suku Bunga Global Membayangi Pasar

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Ditutup Melemah 1,28 Persen, Kekhawatiran Geopolitik dan Suku Bunga Global Membayangi Pasar
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 75,34 poin atau 1,28 persen ke posisi 5.820,79 pada perdagangan Senin sore di tengah sikap hati-hati pelaku pasar terhadap meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga global.

IHSG sempat dibuka menguat sebelum bergerak ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama dan tetap berada di zona merah sepanjang sesi kedua.

Indeks LQ45 juga ditutup melemah 10,71 poin atau 1,83 persen ke posisi 573,01.

Tekanan Eksternal dan Domestik Membebani IHSG

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus (Nico) mengatakan, "Mengawali pekan ini, tekanan eksternal dan internal turut menopang tekanan IHSG."

Ia mengungkapkan, dari faktor eksternal pasar kembali memperhitungkan risiko geopolitik akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dinilai mengancam proses kesepakatan perdamaian.

AS menyerang basis militer Iran pada akhir pekan setelah Iran sempat menyerang wilayah Selat Hormuz.

Situasi memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan Iran.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal Iran, lokasi penyimpanan drone Iran, dan situs radar pantai Iran karena Iran melanggar Perjanjian Gencatan Senjata.

Sebagai tanggapan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Bahrain serta Kuwait.

Meskipun kedua pihak sepakat menangguhkan serangan lanjutan menjelang pembicaraan perdamaian di Doha, Qatar, ketidakpastian terhadap proses perdamaian masih tetap tinggi.

Nico mengatakan, "Data ekonomi AS yang dinantikan, khususnya ketenagakerjaan yang apabila hasilnya kurang baik, berpotensi memberikan tekanan kepada pasar."

Pelaku pasar pada pekan ini juga akan mencermati data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTs) Amerika Serikat, pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh, data Non-Farm Payrolls (NFP), tingkat pengangguran Amerika Serikat, PMI Manufaktur China, serta data inflasi Zona Euro.

Investor Masih Memilih Bersikap Wait and See

Dari dalam negeri, pelaku pasar terus memantau reformasi transparansi pasar modal Indonesia, kebijakan pemerintah, serta belum konsistennya aliran dana asing (foreign inflow) ke pasar modal Indonesia.

Data ekonomi domestik yang menjadi perhatian pada pekan ini meliputi PMI Manufaktur Indonesia, data inflasi Juni, dan neraca perdagangan yang akan menjadi indikator kekuatan aktivitas ekonomi serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Nico mengatakan, investor domestik masih cenderung berhati-hati dalam melakukan akumulasi saham maupun masuk ke pasar.

Ia mengungkapkan, "Terlebih lagi, apabila tidak ada perbaikan sama sekali, wait and see akan menjadi pilihan untuk saat ini. Terutama apabila tidak ada perbaikan kebijakan yang memberikan dampak secara jangka pendek."

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor mengalami pelemahan dengan sektor infrastruktur turun paling dalam sebesar 1,63 persen, diikuti sektor barang baku 1,44 persen dan sektor keuangan 1,16 persen, sedangkan sektor properti menjadi satu-satunya sektor yang menguat sebesar 0,62 persen.

Saham yang mencatatkan penguatan terbesar yaitu OILS, ASPI, TRUS, PMUI, dan AYLS.

Saham yang mengalami pelemahan terbesar yaitu BHAT, BBRM, COCO, GPSO, dan UVCR.

Frekuensi perdagangan saham mencapai 1.205.000 kali transaksi dengan volume perdagangan sebanyak 12,99 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp8,16 triliun.

Sebanyak 228 saham menguat, 467 saham melemah, dan 264 saham tidak mengalami perubahan harga.

Sementara itu, bursa saham regional Asia bergerak menguat dengan Indeks Nikkei naik 161,12 poin atau 0,23 persen ke 69.522,00, Indeks Shanghai naik 46,64 poin atau 1,16 persen ke 4.073,90, Indeks Hang Seng menguat 335,60 poin atau 1,48 persen ke 23.007,60, serta Indeks Strait Times naik 12,30 poin atau 0,20 persen ke 5.202,48.

Penulis :
Leon Weldrick