
Pantau - Nilai tukar rupiah menguat 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi setelah rilis data pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan hasil Non-Farm Payrolls (NFP) yang lebih lemah dari ekspektasi pasar.
Data NFP Dorong Penguatan Rupiah
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan data NFP Amerika Serikat menjadi faktor utama yang mendorong penguatan rupiah.
Ia mengungkapkan, “Penambahan Non-Farm Payrolls (NFP) hanya mencapai 57 ribu pada Juni 2026, turun dari 129 ribu pada bulan sebelumnya dan jauh di bawah konsensus pasar sebesar 113 ribu.”
Rupiah pada Jumat pagi tercatat menguat ke level Rp17.950 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.995 per dolar AS.
Josua menjelaskan pelaku pasar lebih menitikberatkan pada lemahnya data NFP, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bergeser dari September 2026 menjadi Oktober 2026.
Investor Cermati Risiko Eksternal Indonesia
Di sisi lain, Josua menilai sentimen terhadap rupiah masih dibayangi kekhawatiran investor terhadap ketahanan sektor eksternal Indonesia setelah terjadi defisit neraca perdagangan bulanan pertama dalam enam tahun terakhir.
Ia menambahkan proyeksi Fitch yang memperkirakan cadangan devisa Indonesia turun menjadi setara 4,9 bulan pembayaran eksternal pada akhir 2026 juga turut memengaruhi sentimen pasar.
Josua mengatakan, “Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit transaksi berjalan serta menekan sentimen investor terhadap rupiah.”
Sementara itu, tingkat pengangguran Amerika Serikat tercatat turun tipis menjadi 4,2 persen dari sebelumnya 4,3 persen atau lebih baik dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 4,3 persen.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





