HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp17.963 per Dolar AS setelah Sentimen Negosiasi Iran-AS dan Data Tenaga Kerja AS Melemah

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Rupiah Menguat ke Rp17.963 per Dolar AS setelah Sentimen Negosiasi Iran-AS dan Data Tenaga Kerja AS Melemah
Foto: Foto: (Sumber: Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS, terpengaruh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang lebih lama. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/.)

Pantau - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Jumat sore sebesar 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.963 per dolar Amerika Serikat dibandingkan sebelumnya Rp17.995.

Penguatan Rupiah Dipicu Sentimen Geopolitik dan Pernyataan Pejabat AS

Penguatan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen positif dari perkembangan negosiasi Iran dan Amerika Serikat serta data ekonomi global yang lebih lemah dari ekspektasi.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah dipengaruhi sinyal positif negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat.

Ibrahim Assuaibi mengatakan, "Investor terus memantau negosiasi antara Washington dan Teheran setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia percaya Iran telah ‘menyetujui hampir semua yang kita butuhkan,’ menandakan kepercayaan bahwa diskusi bergerak ke arah yang benar.", ungkapnya.

Ia juga menyebut masih terdapat ketidakpastian setelah laporan bahwa Teheran menolak proposal terkait Selat Hormuz sebagai imbalan pelepasan dana yang dibekukan sehingga risiko geopolitik tetap menjadi perhatian pelaku pasar.

Data Tenaga Kerja AS dan Ekspektasi Kebijakan The Federal Reserve Menjadi Sentimen Tambahan

Sentimen pasar turut dipengaruhi data Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang mencatat penambahan 57 ribu pekerjaan pada Juni yang lebih rendah dari ekspektasi 110 ribu.

Data penggajian Mei juga direvisi turun menjadi 129 ribu dari sebelumnya 172 ribu sementara tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen.

Rata-rata pendapatan per jam pada Juni tercatat naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,5 persen secara tahunan sesuai ekspektasi pasar.

Data Non Farm Payroll yang melemah menurunkan ekspektasi kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve dengan peluang kenaikan suku bunga September turun menjadi 51 persen dari sebelumnya 63 persen berdasarkan CME FedWatch Tool.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke level Rp17.960 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.994 pada akhir perdagangan.

Pergerakan rupiah pada penutupan pekan ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor geopolitik dan data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan.

Penulis :
Leon Weldrick