HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonom Nilai Prospek Ekspor Indonesia Semester II 2026 Masih Dibayangi Tarif Amerika Serikat

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Ekonom Nilai Prospek Ekspor Indonesia Semester II 2026 Masih Dibayangi Tarif Amerika Serikat
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (5/1/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto.)

Pantau - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai prospek ekspor Indonesia pada semester II 2026 masih menghadapi tantangan akibat kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) serta tekanan harga komoditas global.

Yusuf menyampaikan dampak penuh kebijakan tarif impor AS diperkirakan baru terasa pada paruh kedua 2026 karena penyesuaian pesanan dari importir membutuhkan waktu beberapa bulan.

Tarif AS dan Harga Komoditas Jadi Tantangan

Selain kebijakan tarif AS, Indonesia juga dinilai perlu mengantisipasi pengalihan pesanan ekspor ke negara pesaing seperti Vietnam dan Meksiko yang memiliki daya saing lebih tinggi di pasar Amerika.

Harga komoditas utama seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) juga masih berada di bawah tekanan siklus, sementara permintaan logam industri dari China belum pulih sepenuhnya karena stimulus ekonomi negara tersebut berjalan lebih lambat dari perkiraan.

Meski demikian, ekspor nonmigas Indonesia ke China sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih tumbuh 17,7 persen secara tahunan sehingga menjadi penopang di tengah pelemahan permintaan dari pasar lain.

Yusuf mengungkapkan, "Dengan kondisi tersebut, saya memperkirakan pertumbuhan ekspor pada semester kedua akan berada di kisaran nol sampai dua persen dengan risiko yang cenderung mengarah ke bawah apabila negosiasi tarif dengan Washington tidak menghasilkan pelonggaran."

Pemerintah Terus Lakukan Negosiasi Tarif

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat masih dikenakan tarif universal sebesar 10 persen yang berlaku selama 150 hari hingga 24 Juli 2026.

Pemerintah Indonesia terus melakukan pendekatan dan negosiasi dengan pemerintah AS untuk memperoleh tarif yang lebih kompetitif, termasuk mendorong sejumlah komoditas mendapatkan tarif 0 persen.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Mei 2026 mencapai 22,45 miliar dolar AS atau mengalami kontraksi 4,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kontraksi tersebut dipengaruhi penurunan ekspor logam mulia dan perhiasan, bijih logam, terak dan abu, serta besi dan baja.

Penulis :
Ahmad Yusuf