HOME  ⁄  Ekonomi

CELIOS Dorong Olahan Nikel dan Perikanan Menjadi Andalan Baru Ekspor Indonesia Usai Neraca Perdagangan Defisit

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

CELIOS Dorong Olahan Nikel dan Perikanan Menjadi Andalan Baru Ekspor Indonesia Usai Neraca Perdagangan Defisit
Foto: Arsip foto - Nelayan menata ikan tuna hasil tangkapan di atas kapal saat bersandar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sendang Biru, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pantau - Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai produk olahan nikel dan sektor perikanan menjadi komoditas ekspor alternatif yang berpotensi memperbaiki kinerja neraca perdagangan Indonesia setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026.

Defisit tersebut mengakhiri tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

"Dua itu harusnya, olahan nikel berkualitas dan perikanan.", ujar Bhima.

Olahan Nikel Perlu Penuhi Standar Internasional

Bhima mendorong pengembangan produk olahan nikel yang memiliki standar lingkungan lebih ketat, sistem traceability, memenuhi persyaratan Cross Border Adjustment Mechanism (CBAM), serta sesuai dengan standar The London Metal Exchange.

Menurut Bhima, penerapan standar rendah karbon pada produk olahan nikel akan membuka akses ke pasar Eropa, mengurangi ketergantungan ekspor terhadap pasar China, serta memperluas peluang ekspor ke Amerika Serikat dan negara lainnya.

"Jadi harus ada standarisasi rendah karbon untuk produk olahan-olahan nikel, sehingga pasarnya tidak hanya bergantung pada China, tapi juga bisa mengekspor langsung kepada Eropa, salah satunya, atau ke Amerika Serikat.", ungkap Bhima.

Ia juga mendorong pemanfaatan perjanjian dagang internasional, seperti Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), serta optimalisasi diplomasi dagang untuk memperluas pasar ekspor produk olahan nikel.

Bhima menilai Indonesia perlu memperkuat hilirisasi pada tahap menengah agar ekspor tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi tambang, melainkan mampu meningkatkan nilai tambah dan harga produk di pasar internasional.

"Indonesia harus memperkuat hilirisasi di bagian tengah, sehingga produk yang diekspor itu tidak mengandalkan ekspansi tambang terus. Tapi dengan kuota produksi yang ada sekarang, harga barang di level internasional ini bisa lebih tinggi.", kata Bhima.

Sektor Perikanan Dinilai Masih Memiliki Potensi Besar

Bhima menilai kontribusi sektor perikanan terhadap ekspor masih relatif rendah meski menunjukkan pertumbuhan positif.

Menurutnya, komoditas seperti olahan rumput laut, ikan tuna, dan berbagai jenis ikan lainnya memiliki peluang besar menembus pasar ekspor di Pakistan, India, Eropa, hingga Asia Tengah.

Bhima menekankan pentingnya investasi pada fasilitas cold storage dan industri hilirisasi perikanan agar produk diolah terlebih dahulu di dalam negeri sebelum diekspor.

"Perikanan ini juga termasuk investasi pada cold storage dan industri hilirisasi ikan, jadi pengolahannya dilakukan di dalam negeri sebelum dilakukan ekspor. Jadi, bukan barang mentah ikannya.", ujar Bhima.

Ia juga menyarankan Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit karena dinilai lebih rentan terhadap fluktuasi akibat dinamika ekonomi global.

Penulis :
Gerry Eka