HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Ditutup Melemah 1,89 Persen, Sentimen Watchlist S&P Dow Jones Membebani Perdagangan

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

IHSG Ditutup Melemah 1,89 Persen, Sentimen Watchlist S&P Dow Jones Membebani Perdagangan
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ditutup melemah 113,12 poin atau 1,89 persen ke posisi 5.873,37 setelah terbebani sentimen pengumuman dari penyedia indeks global S&P Dow Jones.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut melemah 12,04 poin atau 2,02 persen ke posisi 582,88.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, "IHSG melemah yang terbebani sentimen rilis S&P Dow Jones."

S&P Dow Jones Masukkan Indonesia ke Watchlist

Nico menjelaskan tekanan terhadap pasar keuangan domestik bertambah setelah pengumuman dari S&P Dow Jones Indices.

S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam watchlist atau daftar pantau negara yang berpotensi mengalami reklasifikasi pasar pada 2027.

Lembaga tersebut melakukan pemantauan khusus terhadap pasar modal Indonesia.

S&P Dow Jones Indices memberikan status peringatan bahwa Indonesia berpotensi diturunkan dari kategori emerging market menjadi frontier market.

S&P Dow Jones Indices menyatakan akan terus memantau perkembangan transparansi kepemilikan saham di Indonesia.

Pemantauan tersebut mengacu pada panduan baru yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia.

Nico mengungkapkan, "Penurunan status tersebut sehubungan dengan kondisi transparansi pasar modal domestik, seperti hal sama yang dilakukan sebelumnya oleh MSCI. Kondisi ini tentunya memberikan tekanan pasar keuangan dalam negeri."

Sentimen Global dan Pergerakan Perdagangan

Dari sisi global, mayoritas bursa saham di kawasan Asia ditutup melemah akibat meningkatnya risiko geopolitik setelah kembali memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Serangan udara terhadap Iran mendorong eskalasi terbaru dalam konflik kedua negara.

Aksi militer tersebut menyusul serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Washington memberikan dispensasi yang memungkinkan Iran tetap menjual minyak mentah di pasar global.

Kebijakan tersebut dinilai dapat mengancam kesepakatan perdamaian sementara antara Amerika Serikat dan Iran.

Risiko tersebut berpotensi mengakhiri upaya penghentian perang.

Harga minyak diperkirakan terdorong naik lebih tinggi.

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap inflasi.

Kondisi tersebut juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga.

IHSG dibuka melemah sejak awal perdagangan.

Pada sesi pertama, IHSG tetap berada di wilayah negatif hingga penutupan sesi.

Pada sesi kedua, IHSG masih bertahan di zona merah hingga perdagangan berakhir.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sebelas sektor mengalami pelemahan.

Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 4,35 persen.

Sektor properti turun 2,68 persen.

Sektor barang konsumen nonprimer melemah 2,50 persen.

Saham dengan kenaikan harga terbesar adalah JECX, JELI, MMIX, BACH, dan KOKA.

Saham dengan penurunan harga terbesar adalah BAPA, BIPP, LAND, RODA, dan NTBK.

Frekuensi perdagangan saham mencapai 1.958.000 kali transaksi.

Volume perdagangan tercatat sebanyak 21,18 miliar lembar saham.

Nilai transaksi perdagangan mencapai Rp10,54 triliun.

Sebanyak 195 saham menguat.

Sebanyak 512 saham melemah.

Sebanyak 256 saham tidak mengalami perubahan harga.

Pada penutupan perdagangan regional, Indeks Nikkei melemah 1,85 persen ke posisi 66.992,00, Indeks Shanghai melemah 0,49 persen ke posisi 3.970,88, Indeks Hang Seng menguat 2,99 persen ke posisi 24.199,46, dan Indeks Strait Times menguat 0,51 persen ke posisi 5.369,57.

Penulis :
Leon Weldrick