HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp18.065 per Dolar AS di Tengah Meredanya Ketegangan AS-Iran

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Menguat ke Rp18.065 per Dolar AS di Tengah Meredanya Ketegangan AS-Iran
Foto: (Sumber :Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Dolarasia Money Changer Cibubur, di Jatisampurna, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 52 poin atau 0,29 persen menjadi Rp18.066 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp18.014 per dolar AS. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye.)

Pantau - Nilai tukar rupiah menguat 63 poin atau 0,35 persen menjadi Rp18.065 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat pagi dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.128 per dolar AS, didorong perkembangan positif hubungan AS dan Iran yang menekan harga minyak dunia.

Sentimen Global Dorong Penguatan Rupiah

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi stabilnya indeks dolar AS, penguatan mata uang regional, serta meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.

Ia mengungkapkan, “Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat pada kisaran di Rp18.050-Rp18.120 dipengaruhi faktor global penguatan mata uang regional seiring stabilnya index dollar dan penurunan harga minyak.”

Mengutip Sputnik, militer AS menangguhkan serangan terhadap Iran di tengah proses negosiasi, namun tetap menyatakan kesiapan melanjutkan operasi militer jika diperlukan.

Pemerintah AS juga membantah klaim Iran mengenai adanya serangan baru yang disebut terjadi pada Kamis malam.

Sebelumnya, militer AS melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Iran pada Rabu dini hari, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan ke pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.

Faktor Domestik Masih Menjadi Tantangan

Rully menilai penguatan rupiah masih dibatasi sejumlah indikator ekonomi domestik yang belum menunjukkan perbaikan.

Ia mengatakan, “Dari domestik, masih menjadi pemberat rupiah menguat lebih jauh seperti data ekonomi, di antaranya defisit neraca perdagangan, defisit anggaran yang melampaui ekspektasi, dan data penjualan ritel dan keyakinan konsumen.”

Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026 setelah sebelumnya membukukan surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Sementara itu, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 diproyeksikan melebar menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85 persen terhadap produk domestik bruto, lebih tinggi dibanding target awal sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.

Bank Indonesia juga memperkirakan Indeks Penjualan Riil Juni 2026 berada di level 221,6 atau masih mengalami kontraksi 4,4 persen secara tahunan, sedangkan Indeks Keyakinan Konsumen tetap berada di zona optimistis pada level 117,8 meski lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 120,9.

Penulis :
Ahmad Yusuf