HOME  ⁄  Ekonomi

Daya Saing dan Inovasi Dinilai Menjadi Penentu Pertumbuhan Ekspor Produk Sawit Indonesia

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Daya Saing dan Inovasi Dinilai Menjadi Penentu Pertumbuhan Ekspor Produk Sawit Indonesia
Foto: (Sumber :Arsip - Petugas memberikan arahan terkait aktivitas bongkar muat cangkang kelapa sawit siap ekspor di Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang, Sumatera Barat. (ANTARA/Muhammad Zulfikar).)

Pantau - Ekonom menilai peningkatan daya saing yang ditopang inovasi menjadi kunci agar ekspor produk turunan kelapa sawit Indonesia mampu tumbuh secara berkelanjutan di tengah semakin ketatnya standar perdagangan internasional dan perubahan dinamika pasar global, demikian disampaikan di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Hilirisasi Harus Berorientasi pada Nilai Tambah

Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Isnawati Hidayah mengatakan Indonesia tidak dapat hanya mengandalkan status sebagai produsen sawit terbesar dunia karena daya saing ekspor ke depan semakin ditentukan oleh kemampuan memenuhi standar keberlanjutan, traceability, dan rendah emisi.

Ia mengungkapkan, "Indonesia perlu bergerak dari ekspor produk antara menuju produk hilir yang memiliki nilai tambah dan kandungan teknologi lebih tinggi sehingga tidak terus bergantung pada fluktuasi harga komoditas primer."

Menurut Isnawati, hilirisasi tetap menjadi strategi penting, namun implementasinya harus berorientasi pada peningkatan kualitas, bukan sekadar menambah jenis produk ekspor.

Ia menilai pemerintah perlu mendorong investasi pada industri hilir berbasis inovasi dan teknologi agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Ia juga menekankan petani kecil perlu menjadi bagian dari rantai nilai sehingga manfaat hilirisasi tidak hanya dinikmati industri besar.

Selain itu, peningkatan produktivitas dinilai lebih tepat dilakukan melalui optimalisasi lahan yang sudah ada dibandingkan membuka kawasan baru yang berpotensi memicu deforestasi dan menurunkan daya saing produk sawit Indonesia.

Penguatan Ekosistem dan Sertifikasi Jadi Faktor Penting

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan strategi peningkatan daya saing perlu dilakukan melalui diferensiasi produk sehingga Indonesia tidak hanya mengekspor crude palm oil (CPO).

Ia menegaskan, "Paling penting adalah membangun ekosistemnya."

Menurut Esther, produk sawit perlu dikembangkan menjadi biodiesel, sabun, deterjen, pelumas, kosmetik, hingga produk oleokimia yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Ia menambahkan pelaku usaha juga harus memastikan produk memenuhi standar mutu internasional dan regulasi negara tujuan ekspor, termasuk persyaratan keberlanjutan di pasar Eropa, sementara Pakistan dan India masih menjadi pasar potensial.

Esther juga menilai promosi melalui platform business-to-business (B2B) dan partisipasi dalam pameran dagang internasional perlu diperluas guna membuka pasar baru dan memperkuat jaringan distribusi produk turunan sawit Indonesia.

Pemerintah terus memperkuat tata kelola industri sawit melalui penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) hingga sektor hilir sebagai upaya meningkatkan daya saing di pasar global.

Kementerian Perindustrian mencatat ekspor minyak sawit beserta produk turunannya sepanjang 2025 mencapai sekitar 44,65 miliar dolar AS dengan nilai impor sekitar 1,42 miliar dolar AS sehingga menghasilkan surplus perdagangan sekitar 43,23 miliar dolar AS atau sekitar Rp782,46 triliun.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai peningkatan daya saing ekspor juga memerlukan sistem perdagangan yang lebih efisien melalui fasilitasi ekspor, insentif pengolahan produk samping sawit, investasi pada sistem traceability digital nasional, serta penguatan riset dan pengembangan.

Ia menuturkan, "Hilirisasi tidak boleh hanya menghasilkan volume produk olahan yang lebih besar, tetapi juga harus meningkatkan nilai tambah dan margin ekspor Indonesia."

Eliza menambahkan tantangan industri sawit masih meliputi rendahnya produktivitas kebun rakyat, tingginya biaya sertifikasi dan traceability, serta meningkatnya konsumsi domestik untuk program biodiesel yang berpotensi mengurangi surplus ekspor.

Ia juga menyatakan, "Traceability berfungsi mengurangi asimetri informasi dan memenuhi due diligence pembeli maupun regulator di pasar premium. Sertifikasi keberlanjutan juga dapat menjadi instrumen diplomasi dagang untuk meningkatkan daya saing Indonesia."

Penulis :
Aditya Yohan