
Pantau - Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Aimah Nurul Anam meminta Kementerian Perdagangan memperkuat pengamanan pasar dalam negeri untuk melindungi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari derasnya arus produk impor berharga murah.
DPR Soroti Tekanan Produk Impor terhadap UMKM
Mufti Aimah menilai pelaku UMKM, khususnya di sektor konveksi dan tekstil, menghadapi tekanan berat akibat membanjirnya produk impor di pasar domestik.
"Persoalannya bukan karena kualitas produk UMKM kalah bersaing, tetapi karena pasar dalam negeri dibanjiri produk impor dengan harga yang jauh lebih murah," ungkapnya dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI bersama Kementerian Perdagangan dan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Kamis (16/7).
Ia menegaskan perlindungan terhadap pasar domestik perlu menjadi prioritas agar UMKM tetap mampu bertahan dan berkembang.
Selain memperkuat pengawasan terhadap barang impor, Kemendag juga diminta memastikan instrumen perlindungan perdagangan berjalan efektif sehingga tidak merugikan industri nasional.
Kemendag Klaim Terus Dampingi UMKM
Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron turut mendorong Kemendag menghadirkan program yang lebih menyentuh pelaku UMKM dan pedagang pasar rakyat, termasuk melalui revitalisasi pasar tradisional, peningkatan fasilitas, dan pendampingan usaha.
"Kementerian Perdagangan ini memegang peranan penting di dalam membuka pasar-pasar baru dan meningkatkan perdagangan baik dalam negeri maupun luar negeri. Dan bahkan dalam konteks untuk modernisasi di pasar dalam negeri," ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah terus membina UMKM agar mampu menembus pasar ekspor dan masuk ke jaringan ritel modern meski di tengah keterbatasan anggaran.
"Jadi itu sebenarnya kita terus melakukan pembinaan ke UMKM untuk ekspor dan juga kemitraan untuk di dalam negeri. Jadi kalau tadi disampaikan, kita seolah-olah tidak bersentuhan dengan UMKM, sebenarnya kita itu banyak memfasilitasi UMKM kita untuk masuk ritel modern," kata Budi.
Kemendag mencatat sepanjang 2025 telah memfasilitasi 100 UMKM siap ekspor dengan potensi transaksi mencapai 134 juta dolar AS atau sekitar Rp2 triliun, sedangkan pada periode Januari hingga Mei 2026 nilai transaksi UMKM telah mencapai 193 juta dolar AS.
- Penulis :
- Aditya Yohan





