HOME  ⁄  Ekonomi

Bapanas Sebut Harga Gabah Petani Tembus Rp7.000 per Kilogram dan Melampaui HPP

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Bapanas Sebut Harga Gabah Petani Tembus Rp7.000 per Kilogram dan Melampaui HPP
Foto: (Sumber :Petani menjemur gabah saat panen di area persawahan Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (16/7/2026). Perum Bulog Kantor Wilayah Yogyakarta per 10 Juli telah merealisasikan penyerapan gabah atau beras dari hasil panen petani lokal sebanyak 196.431 ton setara beras atau mencapai 100 persen dari target total yang ditetapkan untuk sepanjang tahun 2026 dimana hal tersebut sebagai upaya memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP). ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana/agr/nz/pri..)

Pantau - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani telah mencapai Rp7.000 per kilogram, melampaui harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram sehingga dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan mendorong produksi pangan nasional.

Harga Gabah Dinilai Beri Insentif bagi Petani

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan kenaikan harga gabah menjadi dorongan positif bagi petani untuk terus meningkatkan produksi padi.

Ia mengungkapkan, "Saat ini rata-rata harga gabah kering panen (GKP) berada di kisaran Rp7.000 per kilogram (kg), lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kg."

Menurut Ketut, pemerintah berkomitmen menjaga harga gabah di tingkat petani tetap menguntungkan sekaligus memastikan stabilisasi harga beras di tingkat konsumen melalui berbagai kebijakan.

Bapanas mencatat indeks harga petani padi mencapai 149 seiring menguatnya harga gabah dan pelaksanaan program stabilisasi pangan nasional.

Ia mengatakan, "Harga gabah di tingkat petani yang terjaga merupakan salah satu indikator positif bagi keberlanjutan produksi pangan nasional."

Ketut menambahkan pemerintah terus menjaga keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan petani sebagai produsen dan keterjangkauan harga beras bagi masyarakat sebagai konsumen.

Ia mengungkapkan, "Tentu ada sisi positif. Sisi positifnya apa? Petani kita lagi bahagia. Nah kalau kita ingin menjadi negara produsen beras, ingin swasembada, tentu ini sisi positif. Kenapa? karena harganya nyaman bagi petani kita, nyaman bagi petani kita untuk berproduksi."

Pemerintah Jaga Keseimbangan Harga Petani dan Konsumen

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga yang diterima petani padi hingga Juni 2026 mencapai 149,65 atau menjadi yang tertinggi sejak 2019.

Rata-rata tahunan indeks harga yang diterima petani juga terus meningkat dari 104,99 pada 2021 menjadi 110,42 pada 2022, kemudian 127,26 pada 2023, 135,99 pada 2024, dan 141,31 pada 2025.

Selama 2025, pemerintah memastikan harga gabah di tingkat petani tidak pernah berada di bawah HPP Rp6.500 per kilogram, dengan harga rata-rata terendah tercatat Rp6.712 per kilogram pada April 2025.

BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Juni 2026 berada di angka 127,65, sedangkan NTP Subsektor Tanaman Pangan mencapai 114,65 atau menjadi rekor tertinggi sejak Maret 2024.

Ketut mengatakan pemerintah turut menyalurkan bantuan pangan kepada jutaan keluarga untuk menjaga daya beli masyarakat.

Ia menyampaikan, "Lalu tingkat konsumen bagaimana? Makanya ada bantuan pangan bagi 33,24 juta keluarga. Kalau 1 keluarga ada 3 orang saja, kali 3, kan sekitar 90 juta sekian orang sudah kita bantu dengan bantuan pangan. Ini meringankan masyarakat kita yang membutuhkan."

Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan Indonesia terus mengupayakan swasembada pangan berkelanjutan, seiring proyeksi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang memperkirakan produksi beras Indonesia dapat mencapai 38 juta ton.

Penulis :
Ahmad Yusuf