HOME  ⁄  Ekonomi

Nila Yani: UMKM Tak Bisa Lagi Pakai Cara Lama Hadapi Gen Z

Oleh Khalied Malvino
SHARE   :

Nila Yani: UMKM Tak Bisa Lagi Pakai Cara Lama Hadapi Gen Z
Foto: Anggota Komisi VII DPR RI, Nila Yani Hardiyanti. (Dok. Istimewa)

Pantau - Serapan program UMKM dan kewirausahaan baru mencapai 51,64 persen, sementara pola konsumsi generasi muda terus berubah cepat sehingga pendekatan lama dinilai tidak lagi mampu menjawab kebutuhan pasar.

Anggota Komisi VII DPR RI Nila Yani Hardiyanti menilai perubahan perilaku belanja Gen Z harus menjadi perhatian serius, karena kelompok ini kini menjadi penggerak penting konsumsi nasional dengan preferensi yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Fenomena yang ramai di media sosial menjadi sinyal kuat pergeseran tersebut, terutama ketika produk berbasis pengalaman lebih diminati dibanding layanan konvensional.

“Hari ini saya melihat ada realitas psikologi pasar, banyak meme di media sosial yang menunjukkan ketika Gen Z diberikan pilihan mereka rela mengantri panjang demi kuliner viral, ini bukan sekadar lelucon tetapi indikator adanya pergeseran ekonomi makro,” ujar Nila, Jumat (17/7/2026).

Ia melihat pola konsumsi tidak lagi hanya berorientasi pada kebutuhan dasar, tetapi bergerak ke pengalaman dan interaksi sosial yang melekat dalam aktivitas belanja.

Perubahan ini menuntut penyesuaian strategi pemerintah dalam membina UMKM, agar lebih relevan dengan karakter pasar yang terus bergerak dinamis.

Nila menilai rendahnya serapan program menjadi sinyal perlunya evaluasi menyeluruh, terutama pada model pelatihan yang selama ini dijalankan.

“Kementerian harus mulai menggeser pelatihan-pelatihan formal yang bergaya lama menjadi fasilitasi inkubasi bisnis kuliner, fesyen, dan industri kreatif yang relevan dengan minat Gen Z hari ini,” katanya.

Pendekatan berbasis inkubasi dinilai lebih dekat dengan kebutuhan pelaku usaha muda, sekaligus membuka ruang inovasi yang lebih luas.

Selain itu, ia mendorong pemanfaatan ekosistem digital sebagai ruang utama aktivitas Gen Z, yang selama ini menjadi pusat interaksi sekaligus transaksi ekonomi.

Menurutnya, pemerintah perlu masuk ke platform yang sudah memiliki basis pengguna besar, bukan hanya mengandalkan sistem yang dibangun sendiri.

“Pemerintah tidak cukup hanya membuat aplikasi sendiri, tetapi harus hadir sebagai agregator di platform digital yang sudah digunakan masyarakat agar program lebih mudah diakses dan tepat sasaran,” ujarnya.

Kolaborasi dengan komunitas digital juga dinilai penting, guna memperluas jangkauan sekaligus meningkatkan efektivitas program pembinaan.

Nila menegaskan perubahan perilaku konsumsi harus menjadi dasar penyusunan kebijakan, agar program UMKM tidak tertinggal dari dinamika pasar.

“Perubahan perilaku belanja Gen Z harus menjadi acuan dalam menyusun kebijakan ke depan, sehingga program pemerintah tidak hanya administratif tetapi mampu menjawab kebutuhan pasar dan meningkatkan daya saing pelaku usaha,” tutupnya.

Penulis :
Khalied Malvino