
Pantau - IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 56,25 poin atau 0,91 persen ke posisi 6.231,78 pada perdagangan Senin sore di tengah pelaku pasar yang masih bersikap wait and see menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga acuan.
Indeks LQ45 turut menguat 5,84 poin atau 0,94 persen ke posisi 627,75.
Pasar Menanti Arah Kebijakan BI
Pertemuan RDG BI dijadwalkan berlangsung pada 21-22 Juli 2026 dengan salah satu agenda utama menetapkan arah kebijakan BI-Rate.
BI-Rate saat ini berada di level 5,75 persen setelah sepanjang 2026 dinaikkan sebanyak tiga kali dengan total kenaikan mencapai 100 basis poin (bps).
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, "Dengan mempertimbangkan sentimen domestik dan global, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.000-6.300 sepanjang pekan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, dengan level 6.500 menjadi area penopang penting."
Ia mengungkapkan pergerakan IHSG selama pekan RDG BI masih akan diwarnai sikap wait and see dari para pelaku pasar.
Investor tidak hanya menunggu keputusan BI-Rate tetapi juga mencermati arah kebijakan BI ke depan, termasuk stabilitas nilai tukar Rupiah, perkembangan inflasi, dan prospek arus modal asing.
Hendra mengatakan, "Dalam kondisi seperti ini, pasar umumnya lebih sensitif terhadap sinyal atau forward guidance yang disampaikan BI dibandingkan besaran suku bunga itu sendiri."
Ia menilai selama BI tetap mengedepankan keseimbangan antara menjaga stabilitas Rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi, reaksi pasar cenderung positif karena sebagian besar ekspektasi tersebut telah diperhitungkan investor.
Hendra mengatakan, "Meski demikian, langkah tersebut juga dapat dipandang positif karena memperkuat kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia."
Menurutnya, apabila muncul sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih berpotensi terjadi terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga.
Pergerakan Sektor dan Prospek IHSG
Hendra mengatakan, "Kenaikan suku bunga BI tidak selalu menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. Dalam kondisi tertentu, langkah itu justru dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas makroekonomi sehingga mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia di mata investor asing."
Ia menilai prospek IHSG hingga akhir 2026 masih cukup menjanjikan meski volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi.
Arah pergerakan pasar hingga akhir tahun juga dipengaruhi oleh keputusan suku bunga The Fed, perkembangan geopolitik global, stabilitas nilai tukar Rupiah, pergerakan harga komoditas, dan kinerja laba emiten.
IHSG dibuka menguat pada awal perdagangan dan mampu bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama serta tetap berada di zona hijau sampai perdagangan berakhir.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor ditutup menguat dengan sektor industri memimpin kenaikan sebesar 3,23 persen diikuti sektor energi 2,55 persen dan sektor barang baku 1,79 persen.
Dua sektor mengalami pelemahan dengan sektor teknologi turun 0,63 persen dan sektor kesehatan melemah 0,19 persen.
Saham KOKA, KBLV, AGAR, HOPE, dan ECII menjadi kelompok saham dengan penguatan harga terbesar.
Sementara itu, saham AIMS, BAPA, PRDL, JELI, dan RMKE tercatat sebagai saham dengan pelemahan harga terbesar.
Frekuensi perdagangan saham mencapai 2.362.000 kali transaksi dengan volume 30,19 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp17,11 triliun.
Sebanyak 421 saham menguat, 220 saham melemah, dan 324 saham tidak mengalami perubahan harga.
Bursa saham regional Asia ditutup bervariasi dengan Indeks Shanghai naik 0,85 persen ke level 3.796,28, Indeks Hang Seng menguat 2,36 persen ke level 25.143,05, Indeks Shenzen melemah 0,71 persen ke level 13.610,23, Indeks Kospi turun 4,46 persen ke level 6.516,27, dan Indeks Strait Times melemah 0,20 persen ke level 5.498,23.
- Penulis :
- Leon Weldrick





