HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.948 per Dolar AS, Ketegangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasar

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.948 per Dolar AS, Ketegangan AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasar
Foto: Ilustrasi - Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin 13/7/2026 (sumber: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Pantau - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin sore melemah 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.948 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.921 per dolar AS.

Pelemahan rupiah juga sejalan dengan pergerakan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang turun dari Rp17.944 per dolar AS menjadi Rp17.976 per dolar AS pada hari yang sama.

The Fed dan Kenaikan Harga Minyak Tekan Rupiah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi potensi Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Ia mengungkapkan, “Harga minyak yang lebih tinggi telah memperbarui kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap di atas target Federal Reserve, yang berpotensi memaksa para pembuat kebijakan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendukung imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS.”

Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak dipicu oleh saling serang antara Amerika Serikat dan Iran selama akhir pekan.

Konflik AS-Iran Ganggu Pasokan Minyak

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran pada Minggu (19/7) malam.

Serangan terbaru Amerika Serikat dilakukan setelah Iran menyerang pangkalan Amerika Serikat di Yordania.

Serangan Iran tersebut menewaskan sedikitnya dua tentara Amerika Serikat serta melukai banyak personel lainnya.

Militer Amerika Serikat kemudian menyerang berbagai target yang lebih luas di Iran.

Iran juga meningkatkan serangan terhadap berbagai aset Amerika Serikat di negara-negara Teluk.

Pertempuran masih berfokus pada upaya menguasai Selat Hormuz.

CENTCOM menyatakan serangan Amerika Serikat bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal di Selat Hormuz.

Ibrahim Assuaibi mengatakan, “Pengiriman (suplai minyak) melalui Hormuz sebagian besar masih terganggu membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak lebih lanjut dan memperhitungkan premi risiko yang lebih besar pada komoditas tersebut.”

Gangguan suplai minyak melalui Selat Hormuz membuat pasar tetap berhati-hati terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dunia, sementara meningkatnya risiko pasokan turut mendorong kenaikan premi risiko pada komoditas minyak.

Penulis :
Leon Weldrick