
Pantau - Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan memetakan sejumlah solusi atas berbagai kendala yang dihadapi peternak sapi perah di Jawa Barat sebagai bahan penyusunan Rapat Koordinasi Teknis untuk mempercepat pencapaian target swasembada susu pada 2035.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan hal tersebut usai meninjau Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) di Bandung Barat, Jumat (24/7/2026).
Hanif mengungkapkan, "Jawa Barat menjadi sangat penting untuk kita detilkan dalam rencana swasembada karena berkontribusi hampir 30 persen produksi susu nasional. Roadmap yang telah disusun Kementerian Pertanian perlu diterjemahkan lebih rinci di lapangan."
Jawa Barat Jadi Wilayah Strategis
Hanif mengatakan Jawa Barat merupakan wilayah yang sangat strategis dalam pengembangan sapi perah nasional karena berkontribusi hampir 30 persen terhadap produksi susu nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi susu segar Indonesia pada 2025 mencapai 820.874,80 ton.
Jawa Timur menjadi produsen susu terbesar dengan produksi 475.394,90 ton atau sekitar 57,9 persen dari total nasional.
Jawa Barat berada di posisi kedua dengan produksi 251.871,10 ton atau sekitar 30,7 persen.
Jawa Tengah menempati posisi ketiga dengan produksi 75.336,85 ton atau sekitar 9,2 persen.
Pemerintah Siapkan Langkah Percepatan
Hasil peninjauan lapangan menunjukkan masih diperlukan intervensi pemerintah untuk mengatasi berbagai persoalan mendasar yang dihadapi peternak sapi perah.
Pemerintah menemukan masih perlunya bimbingan teknis bagi peternak untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan usaha.
Peternak juga menghadapi keterbatasan lahan untuk penyediaan pakan ternak.
Biaya sewa lahan kandang yang masih tinggi turut menjadi beban bagi peternak.
Pemerintah menilai percepatan peningkatan populasi sapi perah juga perlu segera dilakukan untuk mendukung peningkatan produksi susu nasional.
Selain persoalan produksi, pemerintah menyoroti dampak lingkungan akibat limbah peternakan yang berpotensi memengaruhi kawasan hulu sehingga pengembangan peternakan harus tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.
Hanif mengungkapkan, "Seluruh persoalan ini akan kami tindak lanjuti sebagai bagian dari mandat Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Setelah kunjungan lapangan ini kami akan menyelenggarakan rapat koordinasi teknis mengenai swasembada susu."
Pemerintah tetap menargetkan swasembada susu dapat tercapai pada 2035.
Hanif menegaskan berbagai hambatan terhadap peningkatan produksi susu harus mulai diselesaikan sejak sekarang.
Produktivitas sapi perah nasional saat ini masih di bawah 12 liter per ekor per hari.
Produktivitas tersebut masih jauh di bawah peternakan di negara maju yang mampu menghasilkan sekitar 34 liter per ekor per hari.
Hanif mengungkapkan, "Ini masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi kita. Karena itu kami juga akan melibatkan kalangan akademisi dan perguruan tinggi untuk melakukan berbagai kajian dan simulasi dalam pengembangan sapi perah."
Pemerintah akan melibatkan akademisi, perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta kementerian terkait dalam penyusunan kajian, simulasi, dan langkah percepatan pengembangan sapi perah.
Dukungan pendanaan juga dinilai diperlukan agar peningkatan populasi dan produktivitas sapi perah dapat berlangsung lebih cepat.
- Penulis :
- Arian Mesa





