
Pantau - Sejumlah nelayan di Pulau Karas, Kecamatan Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau, beralih ke budi daya ikan air tawar karena hasil tangkapan laut dinilai tidak menentu serta membutuhkan biaya dan risiko operasional yang lebih besar.
Salah satu pembudidaya, Abbas, meninggalkan profesi sebagai nelayan sekitar dua tahun lalu dan kini mengembangkan usaha budi daya lele serta nila bersama Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Anak Karas Kecil.
Budi Daya Jadi Sumber Penghasilan Baru
Abbas mengungkapkan, "Sekarang sudah tidak ada kepikiran ke laut lagi."
Ia menjelaskan, "Untuk melaut harus menempuh jarak jauh, dengan biaya besar dan risiko besar."
Kelompok yang dipimpinnya mengelola 30 kolam terpal di lahan seluas sekitar setengah hektare untuk membudidayakan lele dan nila setelah mempelajari teknik budi daya di Tanjung Balai Karimun dan Bintan.
Dalam satu kali panen, kelompok tersebut rata-rata menghasilkan sekitar 200 kilogram lele dari 22 kolam terpal tradisional dan produksi dapat meningkat menjadi 300 hingga 500 kilogram apabila kondisi kolam mendukung serta bebas dari penyakit.
Produksi Dipasarkan ke Pengepul
Hasil panen dijual kepada pengepul di Sembulang dengan harga lele saat itu mencapai Rp24.000 per kilogram.
Dari hasil penjualan tersebut, kelompok pembudidaya dapat memperoleh pendapatan hingga sekitar Rp12 juta setiap panen sebelum dikurangi biaya pakan dan operasional.
Abbas mengungkapkan, "Insya Allah sudah mencukupi."
- Penulis :
- Aditya Yohan



