
Pantau - Pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat (AS) pada semester I 2026 mencapai 7,06 persen secara tahunan menjadi sinyal positif bagi daya saing produk domestik di pasar global di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan negara tersebut.
CORE Soroti Daya Saing dan Tantangan Perdagangan
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pertumbuhan ekspor ke Amerika Serikat menunjukkan produk Indonesia masih mampu bersaing di pasar internasional.
"Ekspor ke Amerika Serikat yang masih tumbuh menjadi sinyal positif bahwa produk Indonesia, khususnya manufaktur dan produk olahan berbasis nikel, tetap memiliki daya saing," ungkap Yusuf.
Ia mengingatkan daya saing tersebut perlu terus diperkuat agar tidak hanya bergantung pada keunggulan harga.
Menurut Yusuf, peningkatan kualitas, inovasi, dan diversifikasi produk menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan ekspor Indonesia.
Ia juga menilai perubahan kebijakan perdagangan global, termasuk potensi meningkatnya proteksionisme, menjadi risiko yang perlu diperhitungkan oleh pemerintah dan pelaku industri di Indonesia.
Yusuf menambahkan penguatan kapasitas industri domestik diperlukan agar produk ekspor Indonesia memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dan mampu menghadapi perubahan aturan perdagangan internasional.
BPS Catat Kinerja Ekspor ke Amerika Serikat
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Amerika Serikat menjadi salah satu tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada periode Januari–Juni 2026.
Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat pada periode tersebut mencapai 15,82 miliar dolar AS atau berkontribusi sebesar 11,76 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.
Nilai ekspor nonmigas ke Amerika Serikat meningkat sebesar 1,04 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produk utama yang diekspor ke Amerika Serikat meliputi mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya dengan nilai 2,50 miliar dolar AS.
Komoditas ekspor terbesar berikutnya adalah alas kaki senilai 1,42 miliar dolar AS.
Pakaian dan aksesorinya (rajutan) juga menjadi komoditas utama dengan nilai ekspor mencapai 1,37 miliar dolar AS.
Sementara itu, China tetap menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia pada Januari–Juni 2026 dengan nilai mencapai 34,56 miliar dolar AS atau berkontribusi 25,68 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.
Komoditas utama ekspor Indonesia ke China meliputi besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.
Pertumbuhan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan negara tersebut setelah pemerintah Amerika Serikat melalui United States Trade Representative (USTR) menetapkan tarif tambahan sebesar 10 persen terhadap produk asal Indonesia.
Tarif tambahan tersebut merupakan hasil investigasi Section 301 terkait larangan terhadap produk yang dibuat menggunakan tenaga kerja paksa.
Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang dikenakan tarif tambahan sebesar 10 persen tersebut.
Saat ini pemerintah Indonesia masih menunggu hasil investigasi lanjutan USTR terkait isu kelebihan kapasitas produksi.
- Penulis :
- Arian Mesa



