
Pantau - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Nino 2026 telah berada pada kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat sehingga memicu musim kemarau yang lebih kering dan lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan hasil pemantauan menunjukkan El Nino saat ini memiliki indeks ENSO sebesar +1,59 berdasarkan anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4.
Ia mengungkapkan, "Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kondisi El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat yang ditunjukkan oleh anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4. Kami menggunakan data periode Mei, Juni, dan Juli yang menunjukkan El Nino dengan indeks ENSO +1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat."
BMKG telah mengingatkan potensi El Nino sejak pertengahan Maret 2026 ketika fenomena tersebut masih diproyeksikan berada pada kategori moderat, sementara Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menetapkan El Nino telah aktif pada 2 Juni 2026.
Sejumlah Wilayah Berisiko Alami Kemarau Lebih Kering
BMKG memprediksi curah hujan pada Agustus hingga September 2026 berada pada kategori rendah hingga sangat rendah akibat pengaruh El Nino.
Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada pertengahan Oktober 2026 sehingga dampak El Nino terhadap curah hujan akan berangsur melemah.
Teuku menjelaskan, "Begitu musim hujan terjadi, pengaruh El Nino di Indonesia sudah tidak signifikan."
Wilayah di selatan garis khatulistiwa seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, dan Sumatera bagian selatan diperkirakan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Sementara itu, pantai barat Sumatera dan Kalimantan bagian utara diperkirakan tidak mengalami penurunan curah hujan secara signifikan karena memiliki pola hujan yang berbeda.
BMKG Siapkan Langkah Antisipasi
BMKG menilai El Nino berpotensi berdampak pada sektor pertanian, penyediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, kebakaran hutan dan lahan, energi, kesehatan, perikanan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Untuk mengurangi dampak tersebut, BMKG bersama kementerian dan lembaga terkait telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak beberapa bulan terakhir.
Langkah tersebut meliputi operasi modifikasi cuaca guna mengisi bendungan yang mengalami penurunan kapasitas air serta mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



