
Pantau - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan manfaat kebijakan hilirisasi harus semakin dirasakan secara adil oleh daerah penghasil dan masyarakat di sekitar kawasan industri saat peluncuran 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Luhut menyatakan hilirisasi telah menghasilkan berbagai capaian, namun masih menyisakan sejumlah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.
Manfaat Hilirisasi Dinilai Harus Lebih Merata
Luhut mengungkapkan pemerataan manfaat ekonomi bagi daerah penghasil, peningkatan peran pengusaha lokal dalam rantai nilai industri, penguatan aspek lingkungan, serta peningkatan standar keselamatan kerja menjadi fokus yang perlu diperbaiki.
“Manfaat hilirisasi harus lebih adil bagi daerah dan masyarakat sekitar industri. Pengusaha nasional dan pengusaha daerah harus naik kelas dalam rantai nilai. Teknologi harus dikuasai anak bangsa dan standar lingkungan serta keselamatan tidak bisa ditawar,” ungkapnya.
Luhut menjelaskan pasar global kini semakin menuntut rantai pasok yang bersih dan berkelanjutan sehingga pemenuhan standar lingkungan bukan lagi sekadar pilihan.
“Pasar dunia semakin menuntut pasok yang bersih. Jadi ini bukan lagi pilihan, ini syarat berdaya saing,” katanya.
Kenang Awal Larangan Ekspor Bijih Nikel
Luhut mengingat kembali masa awal penerapan kebijakan larangan ekspor bijih nikel yang saat itu mendapat banyak kritik, tekanan, hingga gugatan ke World Trade Organization (WTO).
“Saya masih ingat masa-masa awal larangan ekspor bijih nikel, kami dicibir, kami ditekan dari berbagai arah, kami digugat sampai ke WTO dan banyak yang bilang Indonesia tidak akan sanggup,” ujarnya.
Menurut Luhut, kebijakan hilirisasi kini terbukti mampu meningkatkan nilai tambah komoditas mineral melalui lonjakan ekspor produk hilir nikel dan pertumbuhan ekonomi di sejumlah kawasan industri.
“Hasilnya kita bisa lihat dengan angka, bukan retorika. Ekspor produk nikel dan turunannya melonjak berlipat ganda. Morowali dan Halmahera Tengah yang dulu nyaris tidak tercatat dalam peta ekonomi nasional, sekarang tumbuh dua digit dan menjadi bagian dari rantai pasok industri dunia,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Luhut juga mengapresiasi 10 buku karya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia karena dinilai menggambarkan kondisi industri secara terbuka beserta tantangan yang masih dihadapi.
“Buku ini berbeda. Pak Bahlil menulis sendiri dengan data-data yang sangat kaya. Bahwa pekerjaannya belum selesai tentunya. Bagian untuk daerah penghasil belum adil, pengusaha lokal masih banyak menjadi penonton di rumahnya sendiri. Ada persoalan lingkungan, ada persoalan keterampilan pekerja, dan ini ditulis oleh Pak Bahlil secara terbuka,” katanya.
- Penulis :
- Shila Glorya



