HOME  ⁄  Ekonomi

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Tekanan Daya Beli Masih Membayangi Masyarakat

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Tekanan Daya Beli Masih Membayangi Masyarakat
Foto: (Sumber :Ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi. (ANTARA/ist).)

Pantau - Perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II-2026 dan tetap berada pada level positif di tengah ketidakpastian global, meski melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal sebelumnya.

Perlambatan tersebut antara lain terjadi seiring perubahan pola permintaan domestik setelah konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah kembali ke ritme normal seusai berakhirnya sejumlah faktor musiman pada awal tahun.

Masyarakat pada saat bersamaan masih menghadapi tekanan biaya hidup yang meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan sehingga memengaruhi pola konsumsi rumah tangga.

Kelas Menengah Menghadapi Tekanan Daya Beli

Kelompok kelas menengah menjadi salah satu kelompok yang menghadapi tekanan karena tidak lagi menjadi sasaran utama berbagai program bantuan sosial, sementara kemampuan keuangannya juga terbatas dalam menyerap kenaikan harga kebutuhan.

Kondisi tersebut membuat rumah tangga lebih selektif membelanjakan pendapatan dengan memprioritaskan kebutuhan pokok dan menunda pembelian barang sekunder.

Prof Perdana Wahyu Santosa menilai perlambatan konsumsi tidak serta-merta menunjukkan bahwa fondasi makroekonomi Indonesia mengalami pelemahan.

"Efektivitas stimulus fiskal pada kuartal kedua dinilai belum cukup kuat untuk mengembalikan daya beli masyarakat," ungkapnya.

Investasi dan Sektor Produktif Menopang Ekonomi

Di tengah tekanan konsumsi, sektor produktif masih menunjukkan pertumbuhan dengan industri pengolahan dan konstruksi mencatat ekspansi yang ditopang masuknya investasi.

Investasi tersebut terutama mengalir pada proyek hilirisasi dan pembangunan industri bernilai tambah yang menjadi salah satu penopang aktivitas sektor riil.

Sektor riil Indonesia juga tetap bertahan di tengah gejolak pasar keuangan global, ketidakpastian suku bunga internasional, dan fluktuasi imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).

Surplus neraca perdagangan yang masih terjaga turut menjadi penyangga stabilitas ekonomi nasional.

Kinerja investasi, produksi, dan perdagangan menunjukkan pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada konsumsi rumah tangga, tetapi juga ditopang aktivitas sektor produktif.

Perkembangan tersebut terjadi ketika pemerintah masih menghadapi tantangan untuk memperkuat efektivitas kebijakan fiskal dalam menjaga daya beli sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Penulis :
Aditya Yohan