HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah 1,53 Persen, Pasar Menanti Hasil Tinjauan MSCI Agustus 2026

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

IHSG Melemah 1,53 Persen, Pasar Menanti Hasil Tinjauan MSCI Agustus 2026
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 97,49 poin atau 1,53 persen ke level 6.267,88 pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026, di tengah sikap pelaku pasar yang menunggu hasil tinjauan MSCI Inc. terhadap saham global, termasuk Indonesia.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut melemah 8,34 poin atau 1,32 persen ke posisi 625,79.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan perhatian pelaku pasar tertuju pada agenda penyeimbangan kembali indeks MSCI periode Agustus 2026.

"Pelaku pasar tampaknya cenderung menantikan tinjuan rebalancing MSCI bulan Agustus yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Investor Menanti Tinjauan MSCI dan Gubernur BI

Dari dalam negeri, investor berharap reformasi pasar modal yang dilakukan regulator dapat membuka peluang bagi MSCI untuk segera mencabut status pembekuan saham Indonesia dalam Tinjauan Indeks Agustus 2026.

MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil tinjauan indeks pada 12 Agustus 2026 sekitar pukul 23.00 Central European Summer Time atau 13 Agustus 2026 sekitar pukul 04.00 WIB.

Hasil tinjauan tersebut akan mencakup daftar saham yang masuk dan keluar dari sejumlah indeks saham global.

Perubahan komposisi indeks berdasarkan hasil tinjauan MSCI dijadwalkan mulai berlaku efektif setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026.

Selain sentimen MSCI, perkembangan mengenai calon definitif Gubernur Bank Indonesia (BI) turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Nico menilai pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI memberikan katalis positif karena menghadirkan kepastian sekaligus menjaga kesinambungan kebijakan moneter setelah pengunduran diri Perry Warjiyo.

"Pengalamannya di BI dapat membantu menjaga stabilitas rupiah dan inflasi. Namun, tantangan utamanya adalah mempertahankan independensi BI sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi pemerintah," ujar Nico.

Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi

Dari luar negeri, bursa saham Asia bergerak beragam di tengah menurunnya harapan tercapainya perdamaian di kawasan Timur Tengah, terutama terkait kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan agar Iran memberikan kompensasi atas korban jiwa dalam konflik.

Seruan tersebut muncul setelah Teheran meminta kompensasi atas kerusakan yang disebabkan oleh serangan Amerika Serikat dan Israel.

Ketidakpastian konflik yang berlanjut mendorong kenaikan harga minyak dunia sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi dan suku bunga global.

Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, mengatakan beberapa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan agar inflasi dapat kembali menuju target bank sentral sebesar 2 persen.

"Ketidakpastian tetap ada mengenai potensi kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, membuat pasar waspada terhadap inflasi dan prospek suku bunga," ujar Nico.

Seluruh Sektor Saham Berakhir di Zona Merah

IHSG sempat dibuka menguat, tetapi kemudian berbalik masuk ke teritori negatif hingga penutupan sesi pertama.

Pada sesi kedua, IHSG tetap berada di zona merah hingga perdagangan saham berakhir.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor mengalami penurunan dengan sektor industri mencatat koreksi paling dalam sebesar 3,09 persen.

Sektor barang konsumen nonprimer dalam artikel sumber tercatat mengalami penurunan dengan angka 2,56 persen dan 2,41 persen.

Saham-saham yang membukukan penguatan harga terbesar adalah CSMI, STAR, YPAS, FAST, dan KJEN.

Sementara itu, saham-saham yang mencatat pelemahan harga terbesar adalah IKBI, SULI, BAIK, GMFI, dan TALK.

Frekuensi perdagangan di BEI tercatat sebanyak 2.163.000 kali transaksi dengan total volume mencapai 34,01 miliar lembar saham dan nilai transaksi Rp14,48 triliun.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 148 saham menguat, 567 saham melemah, dan 248 saham tidak mengalami perubahan harga.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei menguat 2,08 persen ke level 66.970,22, sedangkan indeks Shanghai melemah 0,82 persen ke posisi 3.934,09.

Indeks Hang Seng turun 1,10 persen ke level 25.652,82, sementara indeks Kospi menguat 0,73 persen ke posisi 6.345,53 dan indeks Straits Times naik 0,84 persen ke level 5.746,11.

Penulis :
Shila Glorya