
Pantau - Pemerintah menyatakan cadangan devisa Indonesia per Juli 2026 berada dalam kondisi aman dengan nilai mencapai 145,3 miliar dolar AS atau setara kebutuhan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan kondisi tersebut dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.
"Kalau kita lihat, bantalan eksternal aman, proyeksi internasional terjaga, cadangan devisa setara dengan 5,5 bulan impor atau 145,3 miliar (dolar AS)," ungkap Airlangga.
Neraca Perdagangan Surplus dan Rupiah Menguat
Selain cadangan devisa, pemerintah mencermati perkembangan neraca perdagangan Indonesia selama Januari hingga Juni 2026 sebagai salah satu indikator kondisi eksternal perekonomian.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari–Juni 2026 masih membukukan surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS.
"Neraca dagang secara kumulatif Januari–Juni itu masih positif di 3,58 miliar dolar AS," kata Airlangga.
Defisit neraca perdagangan yang terjadi pada Juni 2026 juga tercatat lebih rendah dibandingkan defisit pada Mei 2026.
Pemerintah turut memperhatikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Pembangunan Asia (ADB).
IMF dan ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada pada kisaran 5,0–5,2 persen.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut bertahan di tengah pemangkasan proyeksi pertumbuhan terhadap sejumlah kawasan Asia lainnya.
Pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi indikator yang diperhatikan pemerintah setelah mata uang Indonesia tersebut tercatat menguat 0,69 persen dalam satu minggu terakhir.
"Kemudian, rupiah menguat 0,69 persen dalam seminggu terakhir," ungkap Airlangga.
Airlangga menilai perkembangan cadangan devisa, neraca perdagangan, proyeksi pertumbuhan ekonomi, dan nilai tukar rupiah menunjukkan bantalan eksternal perekonomian Indonesia masih dalam kondisi aman.
RAPBN 2027 Targetkan Ekonomi Tumbuh 6 Persen
Pemerintah selanjutnya menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen secara tahunan pada 2027 sebagaimana ditetapkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027 lebih tinggi dibandingkan target dalam APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen.
Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun atau meningkat Rp254,5 triliun dibandingkan APBN 2026 sebesar Rp3.842,7 triliun.
Pendapatan negara pada 2027 diperkirakan mencapai Rp3.426 triliun atau naik sekitar Rp272,4 triliun dibandingkan target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun.
Pemerintah merencanakan pembiayaan pada 2027 sebesar Rp671,2 triliun, lebih rendah dibandingkan rencana pembiayaan dalam APBN 2026 yang mencapai Rp689,1 triliun.
Defisit anggaran dalam RAPBN 2027 direncanakan sebesar 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dibandingkan defisit APBN 2026 yang direncanakan sebesar 2,68 persen terhadap PDB.
- Penulis :
- Leon Weldrick



