HOME  ⁄  Ekonomi

Petani SPI Sakayan Jauah Terapkan Agroekologi untuk Wujudkan Kedaulatan Pangan di Anduriang

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Petani SPI Sakayan Jauah Terapkan Agroekologi untuk Wujudkan Kedaulatan Pangan di Anduriang
Foto: Petani yang tergabung dalam Basis Serikat Petani Indonesia (SPI) Sakayan Jauah, Korong Balah Aie, Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) sedang panen pada tanaman padi yang menerapkan agroekologi sebagai upaya mewujudkan kedaulatan pangan (sumber: DPW SPI Sumbar)

Pantau - Petani yang tergabung dalam Basis Serikat Petani Indonesia (SPI) Sakayan Jauah di Korong Balah Aie, Nagari Anduriang, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, mulai menerapkan sistem pertanian agroekologi untuk membangun kemandirian petani dan mewujudkan kedaulatan pangan.

Panen perdana dari penerapan sistem tersebut dilaksanakan pada Minggu, 16 Agustus 2026, terhadap padi yang mulai dibudidayakan sejak 30 April 2026 bertepatan dengan deklarasi Kawasan Daulat Pangan (KDP) di Nagari Anduriang.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah SPI Sumatera Barat, Rustam Effendy, mengatakan agroekologi menjadi salah satu bentuk kemerdekaan petani dari ketergantungan terhadap sistem agribisnis dan berbagai sarana produksi dari luar.

"Implementasi agroekologi adalah salah satu wujud kemerdekaan petani dari ketergantungan terhadap sistem agribisnis yang memperbodoh petani. Tujuannya adalah menjadikan petani lebih berdaulat dan mewujudkan pertanian yang rahmatan lil alamin," ungkap Rustam.

Petani Produksi Pupuk Organik Secara Mandiri

Dalam penerapan agroekologi, petani tidak menggunakan bahan kimia buatan pabrik untuk membudidayakan tanaman dan menggantinya dengan pupuk organik yang diproduksi secara mandiri dari bahan-bahan di lingkungan sekitar.

Jenis pupuk yang digunakan petani antara lain bokashi dan pupuk organik cair (POC).

Melalui konsep tersebut, petani diarahkan untuk kembali menguasai pengetahuan dan seluruh proses produksi pertanian, mulai dari pengelolaan lahan, produksi benih, hingga pembuatan dan pengolahan pupuk secara mandiri.

Kemandirian itu membuat petani tidak hanya menjadi pengguna sarana produksi pertanian, tetapi juga mampu memenuhi sebagian kebutuhan produksinya sendiri sebagai bagian dari pembentukan Kawasan Daulat Pangan.

Berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah sampel tanaman padi yang dipanen, setiap rumpun menghasilkan rata-rata 33 batang.

Jumlah batang paling sedikit pada sampel tercatat 17 batang per rumpun, sedangkan jumlah terbanyak mencapai 45 batang per rumpun.

Ketua Basis SPI Sakayan Jauah, Agusnaini, menjelaskan panen perdana tersebut masih berlangsung dalam tahap transisi menuju sistem pertanian agroekologi.

Menurut dia, masa transisi membuat hasil panen belum menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan pertanian dengan metode konvensional.

"Namun, kami optimistis produksi ke depan akan lebih baik karena saat ini kami masih berada pada fase transisi menuju pertanian agroekologi yang bebas dari input kimia pabrikan," ungkap Agusnaini.

Agroekologi Berpeluang Diperluas hingga Lima Hektare

Petani berencana memperluas penerapan agroekologi secara bertahap dengan potensi lahan sawah yang dapat dikembangkan menggunakan sistem tersebut diperkirakan mencapai sekitar lima hektare.

Panen perdana itu menjadi bagian dari langkah awal pengembangan Kawasan Daulat Pangan di Nagari Anduriang yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian petani sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat di tingkat nagari.

Anggota Badan Musyawarah (Bamus) Nagari Anduriang, Atmadelis, menyatakan dukungan terhadap penerapan agroekologi karena dinilai berpotensi menekan biaya produksi sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.

"Kami sangat mendukung penerapan agroekologi melalui penggunaan pupuk organik cair dan pupuk organik padat. Ini memang masih tahap awal sehingga membutuhkan proses penyesuaian dengan kondisi tanah. Namun, jika terus dilanjutkan, hasilnya diyakini akan semakin baik," ungkap Atmadelis.

Pemerintah Nagari Anduriang akan mendorong penerapan pertanian agroekologi agar disosialisasikan secara lebih luas kepada masyarakat.

Atmadelis menilai agroekologi juga berpeluang dikembangkan menjadi kebijakan di tingkat nagari karena sejalan dengan upaya mengurangi biaya pertanian dan nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat.

Penerapan agroekologi di Nagari Anduriang tidak hanya diarahkan untuk mengganti pupuk kimia dengan pupuk organik, tetapi juga membangun sistem pertanian yang membuat petani lebih mandiri dalam mengelola lahan, benih, pupuk, dan seluruh proses produksi sebagai fondasi menuju kedaulatan pangan.

Penulis :
Leon Weldrick