HOME  ⁄  Ekonomi

Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi 453,4 Miliar Dolar AS, BI Sebut Struktur Tetap Sehat

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi 453,4 Miliar Dolar AS, BI Sebut Struktur Tetap Sehat
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Petugas menghitung uang dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jakarta. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA.)

Pantau - Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada triwulan II-2026 naik 4,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 453,4 miliar dolar AS dengan rasio terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 30,6 persen.

Bank Indonesia (BI) menyatakan peningkatan tersebut dipengaruhi kenaikan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi ULN swasta yang lebih rendah.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan posisi ULN Indonesia pada periode tersebut tetap terjaga.

ULN Pemerintah Capai 216,3 Miliar Dolar AS

Posisi ULN pemerintah pada triwulan II-2026 tercatat sebesar 216,3 miliar dolar AS atau tumbuh 2,9 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan I-2026 yang mencapai 3,8 persen secara tahunan.

Perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi aliran modal masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) yang dinilai mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

“Posisi utang luar negeri (ULN) pemerintah relatif aman dan terkendali, mengingat hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang,” demikian keterangan BI.

Pemerintah menyatakan tetap berkomitmen memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang tepat waktu serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel.

ULN pemerintah antara lain digunakan untuk mendukung jasa kesehatan dan kegiatan sosial dengan porsi 22 persen, administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib 20,6 persen, serta jasa pendidikan 16,2 persen.

Pembiayaan tersebut juga mengalir ke sektor konstruksi sebesar 11,5 persen serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5 persen.

Peningkatan ULN bank sentral terutama didorong kenaikan kepemilikan nonresiden terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas rupiah dari ketidakpastian global.

ULN Swasta Masih Mengalami Kontraksi

Posisi ULN swasta pada triwulan II-2026 mencapai 194,6 miliar dolar AS atau mengalami kontraksi 0,6 persen secara tahunan.

Kontraksi tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan I-2026 yang mencapai 1,3 persen.

Perkembangan itu terutama dipengaruhi ULN lembaga keuangan (financial corporations) yang mengalami kontraksi 3,4 persen secara tahunan, dibandingkan kontraksi 6,3 persen pada triwulan sebelumnya.

ULN swasta terutama berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian dengan pangsa 79,4 persen dari total ULN swasta.

Utang jangka panjang mendominasi ULN swasta dengan porsi mencapai 75,7 persen.

BI dan Pemerintah Perkuat Pengawasan Utang

BI melaporkan struktur ULN Indonesia tetap sehat dengan rasio terhadap PDB sebesar 30,6 persen pada triwulan II-2026.

ULN jangka panjang mendominasi dengan pangsa mencapai 82,1 persen dari keseluruhan utang luar negeri Indonesia.

BI dan pemerintah menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN serta mengoptimalkan penggunaannya untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Pengelolaan tersebut juga diarahkan untuk meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian nasional.

Penulis :
Ahmad Yusuf