HOME  ⁄  Ekonomi

Pemerintah Memacu Transformasi Industri Tenaga Surya, Kapasitas Ditargetkan 100 GW

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pemerintah Memacu Transformasi Industri Tenaga Surya, Kapasitas Ditargetkan 100 GW
Foto: (Sumber :Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (20/8/2026). ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira/am..)

Pantau - Pemerintah Indonesia memprioritaskan transformasi industri berbasis tenaga surya dengan target kapasitas sekitar 100 gigawatt (GW) dalam dua hingga tiga tahun sebagai bagian dari pengembangan energi hijau.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kebijakan tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan.

"Sesuai arahan Presiden Prabowo, prioritas kami juga mencakup energi hijau, khususnya transformasi menuju industri berbasis tenaga surya, dengan target kapasitas sekitar 100 gigawatt (GW) dalam kurun waktu 2-3 tahun," kata Airlangga di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Pemerintah Prioritaskan Penggantian Pembangkit Diesel

Presiden Prabowo menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 GW untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.

Target tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mewujudkan 100 persen listrik dari energi terbarukan dalam 10 tahun mendatang.

Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) hingga 2034 dengan target 17,1 GW.

"Menurut saya, prioritas tahun ini adalah program dedieselisasi (penggantian pembangkit listrik tenaga diesel), yaitu mengubah sistem pembangkit listrik di pulau-pulau kecil dari tenaga diesel ke tenaga surya. Ini adalah kebutuhan nyata bagi Indonesia," kata Airlangga.

Airlangga mengatakan pencapaian target tersebut membutuhkan dukungan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kemitraan strategis dengan negara sahabat seperti Jerman.

"Hal ini berarti dibutuhkan banyak teknologi serta barang modal, dan peluang ini terbuka bagi partisipasi Jerman, mengingat transformasi ini baru saja diumumkan oleh Presiden beberapa waktu yang lalu," ujarnya.

Indonesia Dorong Percepatan Pendanaan Transisi Energi

Airlangga mengatakan Jerman merupakan salah satu mitra strategis Indonesia dalam Just Energy Transition Partnership (JETP).

Indonesia mendapatkan komitmen pendanaan internasional JETP sebesar 21,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp356 triliun hingga Rp359 triliun untuk mendukung transisi energi bersih dan dekarbonisasi.

"Indonesia memiliki alokasi dana sekitar 21 miliar dolar AS lebih, namun perkembangannya agak lambat. Sejauh ini baru sekitar 4 miliar dolar AS yang telah dimanfaatkan. Jadi, kita perlu bergerak lebih cepat," kata Airlangga.

Menteri Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman Reem Alabali Radovan mengatakan pengembangan energi terbarukan sejalan dengan komitmen kedua negara mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.

"Salah satu bidang yang memungkinkan hal ini adalah energi terbarukan, di mana perusahaan-perusahaan Jerman membawa serta pengalaman dan teknologi yang luas," kata Radovan.

"Kami juga memiliki berbagai proyek yang melibatkan kolaborasi antara kalangan akademisi, sektor publik, dan sektor swasta. Jadi, saya rasa ini adalah langkah yang tepat untuk bersama-sama mengembangkan solusi yang lebih berkelanjutan demi masa depan," imbuhnya.

Penulis :
Aditya Yohan