HOME  ⁄  Ekonomi

Neraca Pembayaran Indonesia Defisit 0,9 Miliar Dolar AS, BI Sebut Kinerja Tetap Terjaga

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Neraca Pembayaran Indonesia Defisit 0,9 Miliar Dolar AS, BI Sebut Kinerja Tetap Terjaga
Foto: (Sumber :Pekerja melintas di Gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin (6/7/2026). (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.)

Pantau - Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026 mengalami defisit 0,9 miliar dolar AS, turun tajam dibandingkan defisit 9,1 miliar dolar AS pada triwulan I 2026.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan kinerja NPI tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Defisit Transaksi Berjalan Melebar

Defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 tercatat 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB), meningkat dibandingkan 3,6 miliar dolar AS atau 1,0 persen dari PDB pada triwulan sebelumnya.

Defisit neraca perdagangan minyak dan gas meningkat akibat kenaikan impor minyak seiring tingginya harga minyak dunia.

Surplus neraca perdagangan nonmigas juga menurun karena meningkatnya impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri.

Defisit neraca pendapatan primer turut meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer, sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan triwulan I 2026.

Di sisi lain, transaksi modal dan finansial mencatat surplus 12,0 miliar dolar AS pada triwulan II 2026 setelah mengalami defisit 4,8 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya.

Investasi langsung mencatat surplus lebih tinggi yang dipengaruhi terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.

Investasi portofolio juga mencatat peningkatan surplus seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik, sementara investasi lainnya mengalami defisit yang lebih rendah.

Cadangan Devisa Bertahan 145,6 Miliar Dolar AS

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat sebesar 145,6 miliar dolar AS atau setara pembiayaan 5,6 bulan impor.

Cadangan tersebut juga setara dengan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

BI memprakirakan prospek NPI ke depan tetap baik dan mampu mendukung ketahanan eksternal Indonesia.

Defisit transaksi berjalan diprakirakan menurun didukung perbaikan prospek ekspor seiring kenaikan harga komoditas global, termasuk komoditas ekspor unggulan Indonesia, serta dampak penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat.

Transaksi modal dan finansial juga diprakirakan tetap surplus karena berlanjutnya aliran modal asing yang ditopang imbal hasil instrumen keuangan domestik dan prospek positif perekonomian Indonesia.

“Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” kata Ramdan.

Penulis :
Ahmad Yusuf