
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan Jumat (21/8/2026) dengan penguatan 24,10 poin atau 0,37 persen ke posisi 6.525,69, sejalan dengan pergerakan positif mayoritas bursa saham kawasan Asia.
Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga menguat 5,85 poin atau 0,92 persen ke posisi 644,59.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai penguatan pasar Asia dipengaruhi respons investor terhadap data ekonomi Jepang serta penantian terhadap agenda ekonomi China.
"Bursa regional Asia bergerak menguat, tampaknya pelaku pasar merespon rilis data ekonomi Jepang dan juga menantikan pertemuan komite China," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Data Jepang dan Agenda China Jadi Perhatian Pasar
Dari Jepang, PMI Manufaktur S&P Global meningkat menjadi 55,1 pada Agustus 2026 dari posisi 54,5 pada Juli 2026.
Angka tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur Jepang mengalami ekspansi selama delapan bulan berturut-turut, dengan pertumbuhan pada Agustus menjadi yang terkuat sejak April 2026.
Perusahaan-perusahaan Jepang mencatat peningkatan pekerjaan baru dengan laju tercepat sejak Januari 2018, sementara penjualan luar negeri tumbuh dengan laju terkuat sejak awal 2018.
Selain Jepang, perhatian investor tertuju pada China menjelang pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional di Beijing pada 25–28 Agustus 2026.
Pelaku pasar mengharapkan adanya panduan kebijakan tambahan setelah serangkaian data ekonomi China pada Juli 2026 menunjukkan pelemahan.
"Pasar berharap mendapatkan panduan kebijakan tambahan setelah serangkaian data ekonomi lemah yang dilaporkan untuk bulan Juli 2026," ujar Nico.
Dari Amerika Serikat, investor masih memperhatikan volatilitas Wall Street di tengah berbagai keputusan Departemen Keuangan AS dan tingginya imbal hasil obligasi jangka panjang.
Tingginya biaya pembiayaan pemerintah dinilai dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian sekaligus memberikan tekanan terhadap pasar saham.
"Biaya pembiayaan pemerintah yang tinggi berdampak pada perekonomian secara lebih luas dan membebani pasar saham, setelah bertahun-tahun inflasi dan pengeluaran pemerintah yang tinggi," ujar Nico.
Harga minyak mentah juga melanjutkan kenaikan seiring persiapan Amerika Serikat untuk memberlakukan sanksi ekonomi baru yang lebih luas terhadap Iran.
Kenaikan harga minyak terjadi ketika konflik AS dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda, termasuk sengketa kedua negara mengenai Selat Hormuz.
AS disebut bergerak untuk semakin mengisolasi perekonomian Iran melalui langkah-langkah yang berpotensi membatasi akses Teheran terhadap jaringan keuangan dan perdagangan internasional.
Pembatasan tersebut dapat mencakup bank, bisnis, pendaftaran kapal, transfer uang tunai, serta jaringan penyelundupan.
Defisit NPI Mengecil, Pasar Cermati Aturan Harga Minimum Saham
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami defisit sebesar 0,9 miliar dolar AS pada triwulan II 2026.
Defisit tersebut jauh lebih kecil dibandingkan defisit NPI sebesar 9,1 miliar dolar AS pada triwulan I 2026.
Pelaku pasar juga mencermati rencana BEI menghapus ketentuan harga minimum saham sebesar Rp50 untuk meningkatkan likuiditas dan efisiensi perdagangan di pasar saham Indonesia.
Ketentuan harga minimum Rp50 telah diterapkan selama lebih dari satu dekade dengan tujuan melindungi investor dari penurunan harga saham secara tajam.
Namun, sebagian investor menilai batas tersebut menyebabkan distorsi terhadap perdagangan saham-saham berharga rendah.
Penghapusan batas minimum dinilai dapat membuat harga saham lebih mencerminkan kondisi penawaran dan permintaan, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko spekulasi pada saham berharga rendah.
"Penghapusan tingkat minimum akan memungkinkan harga untuk mencerminkan penawaran dan permintaan dengan lebih baik, dan langkah ini sejalan dengan upaya regulasi yang lebih luas untuk memperkuat likuiditas di pasar ekuitas Indonesia. Namun berpotensi meningkatkan risiko spekulasi pada saham-saham berharga rendah," ujar Nico.
Delapan Sektor Menguat
Dalam jalannya perdagangan Jumat, IHSG dibuka menguat dan bertahan di zona positif hingga penutupan sesi pertama.
Pada sesi kedua, IHSG tetap berada di zona hijau hingga menjelang penutupan perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak delapan sektor mengalami penguatan dengan sektor infrastruktur mencatat kenaikan terbesar sebesar 0,61 persen.
Sektor barang baku menyusul dengan kenaikan 0,57 persen, sedangkan sektor keuangan menguat 0,31 persen.
Tiga sektor mengalami pelemahan dengan sektor kesehatan turun paling dalam sebesar 0,73 persen, sektor teknologi melemah 0,38 persen, serta sektor transportasi dan logistik turun 0,29 persen.
Saham-saham yang mencatat penguatan terbesar adalah CSMI, GRIA, SDMU, PIPA, dan BLUE.
Sementara itu, saham yang mengalami pelemahan harga terbesar adalah HATM, SMLE, TCPI, AEGS, dan IKPM.
Frekuensi perdagangan saham sepanjang hari mencapai sekitar 2,234 juta transaksi dengan total 56,72 miliar lembar saham diperdagangkan dan nilai transaksi sebesar Rp17,37 triliun.
Sebanyak 332 saham ditutup menguat, 314 saham melemah, dan 317 saham tidak mengalami perubahan harga.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei ditutup melemah 0,36 persen ke posisi 66.040,00, sedangkan indeks Shanghai menguat 0,04 persen menjadi 3.905,20.
Indeks Hang Seng naik 1,21 persen ke posisi 25.008,46, Kospi menguat 0,88 persen ke posisi 6.912,95, dan Strait Times naik 0,32 persen menjadi 5.690,08.
IHSG akhirnya menutup perdagangan Jumat di posisi 6.525,69 atau menguat 0,37 persen di tengah sentimen mayoritas pasar Asia, perkembangan data ekonomi Jepang, mengecilnya defisit NPI, serta rencana perubahan ketentuan harga minimum saham di BEI.
- Penulis :
- Leon Weldrick



