HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Diprediksi Bergerak Variatif karena Sentimen Global dan Kebijakan Domestik

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Diprediksi Bergerak Variatif karena Sentimen Global dan Kebijakan Domestik
Foto: (Sumber :Pengunjung mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari layar gawai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8/2026). IHSG pada perdagangan Jumat (7/8) ditutup menguat 65,94 poin atau menguat 1,04 persen ke level 6.409,65 dan level ini menandai posisi tertinggi IHSG dalam tiga bulan terakhir. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/agr.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (31/8/2026) diperkirakan bergerak variatif karena dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.

IHSG membuka perdagangan dengan pelemahan 7,01 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.511,11, sedangkan Indeks LQ45 turun 1,11 poin atau 0,17 persen menjadi 640,71.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai peluang penguatan IHSG masih terbuka selama indeks mampu bertahan di atas level tertentu.

"Selama IHSG mampu bertahan di atas di area 6.357, peluang penguatan masih terbuka untuk kembali menguji resistance 6.551, sebelum melanjutkan kenaikan menuju 6.635 dan 6.733. Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan menembus support 6.454, indeks bisa terkoreksi menuju 6.385-6.377 sebagai support kuatnya," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Dari sentimen global, risiko geopolitik di Timur Tengah dinilai relatif mereda, terutama terkait kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak.

Pelaku pasar semakin memandang situasi Iran sebagai konflik yang lebih berfokus pada tekanan ekonomi dan sanksi dibandingkan ancaman langsung terhadap pasokan fisik.

"Membaiknya arus pengiriman melalui Selat Hormuz serta rencana pengembangan koridor Iran–Oman turut menurunkan premi risiko terhadap pasokan energi global," ujar Liza.

Di sisi lain, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menilai inflasi belum menunjukkan perlambatan berarti meningkatkan kekhawatiran bahwa proses penurunan tekanan harga masih membutuhkan waktu lebih lama.

Kondisi tersebut menurut Liza mendorong investor melakukan reposisi portofolio, terutama pada saham berorientasi pertumbuhan yang sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga.

Fokus kebijakan moneter AS masih tertuju pada langkah The Fed menghadapi inflasi yang berada di atas target 2 persen.

"Pernyataan tersebut memperkuat persepsi bahwa kebijakan moneter AS berpotensi tetap ketat lebih lama apabila perkembangan inflasi tidak menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan," ujar Liza.

Dari dalam negeri, BEI menjadwalkan uji coba perubahan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 per saham di pasar reguler dan pasar tunai serta klasifikasi baru auto rejection bersama Anggota Bursa pada 22 dan 29 Agustus 2026.

Perubahan tersebut ditargetkan mulai diterapkan pada 7 September 2026.

Pemerintah juga memberikan relaksasi kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) kepada 64 eksportir sektor pertambangan melalui Pasal 18A PP Nomor 21 Tahun 2026 untuk Pemberitahuan Pabean Ekspor mulai 1 September 2026.

Eksportir yang memenuhi kriteria hanya diwajibkan menempatkan minimal 30 persen DHE SDA selama paling singkat tiga bulan, dibandingkan ketentuan umum sebesar 100 persen selama minimal 12 bulan.

Seluruh hasil ekspor tetap diwajibkan direpatriasi ke Sistem Keuangan Indonesia.

CORE Indonesia memperkirakan kebijakan tersebut mencakup potensi DHE sekitar 30 miliar hingga 40 miliar dolar AS per tahun, terutama dari perusahaan dalam rantai industri nikel, baja berbasis nikel, Freeport, alumina, dan mineral olahan lainnya.

"Relaksasi tersebut memberikan fleksibilitas likuiditas yang lebih besar bagi eksportir, tetapi sekaligus mengurangi jumlah devisa yang wajib mengendap dalam sistem keuangan domestik dalam jangka panjang," ujar Liza.

Bursa saham Eropa pada Jumat (28/8/2026) mayoritas menguat dengan Euro Stoxx 50 naik 0,95 persen, FTSE 100 menguat 0,29 persen, DAX bertambah 0,77 persen, dan CAC 40 naik 0,98 persen.

Sebaliknya, Wall Street melemah dengan S&P 500 turun 0,25 persen ke 7.711,76, Nasdaq Composite melemah 0,52 persen ke 26.402,42, dan Dow Jones Industrial Average turun 0,02 persen menjadi 53.559,99.

Bursa Asia pada Senin pagi juga mayoritas melemah dengan Nikkei turun 1,65 persen, Shanghai 0,23 persen, Kospi 1,82 persen, dan Hang Seng 0,98 persen, sedangkan Straits Times menguat 0,39 persen.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026