
Pantau - WIKA Beton menghadirkan inovasi hunian WHOME dengan sistem modular pracetak untuk mendukung Program Tiga Juta Rumah melalui pembangunan yang lebih cepat, tahan gempa, ramah lingkungan, dan dapat dikembangkan sebagai rumah tumbuh.
Anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk itu memperkenalkan teknologi tersebut dalam Danantara Housing Expo 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, Senin (31/8/2026).
Direktur Teknik dan Produksi WIKA Beton Verly Widiantoro mengatakan WHOME merupakan hasil pengembangan riset kolaboratif bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Kami memberikan dukungan agar Program Tiga Juta Rumah ini bisa terwujud. Dengan membangun secara masif, maka salah satu tantangannya adalah kecepatan. Inovasi WHOME ini mencoba menjawabnya," kata Verly.
WHOME menggunakan konsep modular precast dengan komponen rumah diproduksi terlebih dahulu di pabrik sebelum dikirim ke lokasi dan dirakit.
WIKA Beton telah melakukan dua kali uji lapangan dengan hasil struktur rumah dapat diselesaikan sekitar dua hari, sedangkan pembangunan keseluruhan hingga all furnished membutuhkan sekitar 10 hari.
WHOME juga dirancang memiliki ketahanan terhadap gempa melalui pengembangan bersama BRIN yang melibatkan riset dan tenaga ahli eksternal.
Mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI), struktur WHOME telah diuji sebagai rumah tahan gempa yang memenuhi standar Kategori Desain Seismik (KDS) D dari Kementerian Pekerjaan Umum.
WIKA Beton turut memanfaatkan material sisa industri berupa fly ash dari limbah batu bara dan slag dari limbah besi sebagai bagian dari material bangunan untuk mengurangi emisi karbon dan memanfaatkan limbah industri.
"Jadi kami memanfaatkan barang-barang limbah, sehingga itu fitur green-nya," ujarnya.
Teknologi bangunan WIKA Beton tersebut juga telah digunakan dalam pembangunan rumah di Aceh Tamiang yang menghadapi tantangan keterbatasan akses kendaraan, tempat tinggal pekerja, hingga kebutuhan air.
WIKA Beton dapat menggunakan konsep mobile plant dengan menempatkan fasilitas produksi lebih dekat ke lokasi proyek untuk mendukung pembangunan di wilayah dengan kondisi khusus.
Verly menyebut kapasitas produksi untuk pembangunan di Tamiang dapat mencapai sekitar lima ribu rumah dalam satu bulan.
"Dengan segala keterbatasan, kami bisa secara cepat, kami bangun rumah di sana," katanya.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan tantangan pemenuhan hunian tidak hanya terkait pasokan rumah, tetapi juga kemudahan akses dan skema pembiayaan bagi masyarakat, terutama pembeli rumah pertama.
Danantara menyinergikan ekosistem BUMN properti, Himbara, dan pengembang swasta dengan menawarkan kemudahan uang muka mulai 1 persen hingga tenor panjang.
“Melalui pameran ini, kami berupaya menghadirkan pasokan terbaik dengan harga terjangkau, skema pembiayaan yang kompetitif, dan yang paling penting adalah akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk mewujudkan rumah impiannya,” kata Rosan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




