HOME  ⁄  Ekonomi

Seluruh Provinsi Mengalami Inflasi pada Agustus 2026, Maluku Utara Mencatat Angka Tertinggi 5,28 Persen

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Seluruh Provinsi Mengalami Inflasi pada Agustus 2026, Maluku Utara Mencatat Angka Tertinggi 5,28 Persen
Foto: Ilustrasi - Harga daging ayam potong di berbagai pasar rakyat Kota Ternate, Maluku Utara, menjelang Hari Raya Lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah naik dari harga normal Rp35 ribu per ekor, kini mencapai Rp45 ribu per ekor (sumber: ANTARA/Abdul Fatah)

Pantau - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi secara tahunan pada Agustus 2026, dengan Maluku Utara mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,28 persen secara year-on-year (yoy).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan kenaikan harga secara tahunan terjadi di seluruh provinsi.

"Secara tahunan seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Maluku Utara yaitu sebesar 5,28 persen," ungkap Ateng.

Kalimantan Tengah menyusul dengan inflasi tahunan sebesar 4,96 persen, kemudian Aceh sebesar 4,86 persen, Nusa Tenggara Barat 4,03 persen, dan Sulawesi Utara 3,99 persen.

Sementara itu, Kalimantan Utara menjadi provinsi dengan inflasi tahunan terendah pada Agustus 2026, yakni sebesar 2,17 persen.

Provinsi lain yang mencatat inflasi relatif rendah adalah Papua Selatan sebesar 2,56 persen, Nusa Tenggara Timur 2,59 persen, Sumatera Selatan 2,60 persen, dan DKI Jakarta 2,71 persen.

Makanan hingga Transportasi Memicu Inflasi

Secara umum, inflasi tahunan pada Agustus 2026 terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau; perawatan pribadi dan jasa lainnya; serta transportasi.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,86 persen serta memberikan andil sebesar 1,13 persen terhadap inflasi umum.

Komoditas yang memberikan andil inflasi dari kelompok tersebut antara lain daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin (SKM), cabai rawit, daging sapi, sigaret kretek tangan (SKT), sigaret putih mesin (SPM), dan cabai merah.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi sebesar 9,25 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,63 persen.

Inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya terutama didorong oleh komoditas emas perhiasan.

Kelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 4,79 persen dan memberikan andil sebesar 0,58 persen terhadap inflasi.

Komoditas yang mendorong inflasi kelompok transportasi antara lain bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, dan mobil.

Inflasi Inti Memberikan Andil Terbesar

Berdasarkan komponennya, seluruh komponen inflasi tercatat mengalami inflasi secara tahunan pada Agustus 2026.

Komponen inti atau core inflation mengalami inflasi tahunan sebesar 2,92 persen dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi, yakni 1,87 persen.

Komoditas dalam komponen inti yang dominan memberikan andil terhadap inflasi meliputi emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, pelumas atau oli mesin, serta laptop atau notebook.

Komponen harga yang diatur pemerintah atau administered price mengalami inflasi sebesar 3,32 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,65 persen.

Komoditas yang mendorong inflasi pada komponen harga yang diatur pemerintah antara lain bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), dan bahan bakar rumah tangga.

Sementara itu, komponen harga bergejolak atau volatile food mengalami inflasi tahunan sebesar 4,06 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,67 persen.

Daging ayam ras, beras, cabai rawit, daging sapi, dan cabai merah menjadi komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga bergejolak tersebut.

Penulis :
Arian Mesa
FLOII 2026