
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 4,16 poin atau 0,06 persen ke posisi 6.595,78 pada perdagangan Rabu (2/9/2026), sejalan dengan tekanan mayoritas bursa saham Asia akibat kenaikan harga minyak mentah global.
Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga turun 2,54 poin atau 0,39 persen ke posisi 651,87.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pelemahan bursa Asia mengikuti koreksi Wall Street di Amerika Serikat (AS) di tengah kekhawatiran terhadap inflasi dan suku bunga.
"Bursa Asia didominasi pelemahan mengikuti penurunan Wall Street, AS, setelah lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat," ungkap Nico.
Harga Minyak dan Inflasi Tekan Pasar Saham
Dari sentimen eksternal, eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah memunculkan kekhawatiran terhadap potensi terganggunya pasokan energi.
Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan tersebut mendorong kenaikan harga minyak sekaligus menambah tekanan terhadap inflasi global.
Kondisi tersebut turut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank-bank sentral utama dunia dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu lebih lama.
Dari dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada pada kisaran 5,2-6 persen.
Destry juga memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2027 berada di kisaran Rp17.300-Rp17.800 per dolar AS.
Sentimen domestik lainnya berasal dari inflasi Indonesia pada Agustus 2026 yang meningkat menjadi 3,19 persen dari 2,28 persen pada Juli 2026.
Inflasi pada Juli 2026 tersebut merupakan level terendah dalam tiga bulan.
Inflasi Agustus tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan ekspektasi, terutama akibat kenaikan harga pangan sebagai dampak El Nino.
Pada saat yang sama, inflasi inti mencapai level tertinggi sejak Maret 2023.
Meski dibayangi kenaikan inflasi dan harga minyak global, tekanan terhadap pasar saham Indonesia sebagian tertahan oleh surplus neraca perdagangan Juli 2026 yang berada di luar ekspektasi pasar.
Surplus tersebut ditopang kinerja ekspor yang lebih baik dibandingkan perkiraan.
"Namun, pelemahan pasar saham tertahan sebagian oleh surplus neraca perdagangan Juli 2026 yang di luar ekspektasi, didukung oleh kinerja ekspor yang lebih baik dari perkiraan," kata Nico.
IHSG Bertahan di Zona Merah hingga Penutupan
Dari pergerakan intraday, IHSG sebenarnya membuka perdagangan dalam kondisi menguat sebelum berbalik masuk ke teritori negatif.
IHSG kemudian bertahan di zona merah hingga penutupan sesi pertama dan kembali bergerak negatif sepanjang sesi kedua sampai perdagangan berakhir.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak lima sektor ditutup menguat dan enam sektor berakhir melemah.
Sektor teknologi mencatatkan penguatan terbesar sebesar 3,47 persen, disusul sektor keuangan yang naik 0,49 persen dan barang konsumen nonprimer sebesar 0,44 persen.
Di sisi lain, sektor barang baku mengalami penurunan terdalam sebesar 1,21 persen, diikuti sektor industri yang melemah 1,06 persen dan infrastruktur turun 0,78 persen.
Saham-saham yang mencatatkan penguatan harga terbesar dalam perdagangan tersebut adalah NATO, SAPX, PTSP, BELI, dan BWPT.
Sementara itu, saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar adalah RGAS, HOPE, FUJI, MSIE, dan COCO.
Transaksi BEI Capai Rp16,80 Triliun
Frekuensi perdagangan saham di BEI sepanjang hari mencapai 2.436.000 kali transaksi dengan total volume sebanyak 63,13 miliar lembar saham.
Nilai transaksi perdagangan tercatat mencapai Rp16,80 triliun.
Sebanyak 296 saham mengalami kenaikan harga, 338 saham melemah, dan 329 saham tidak mengalami perubahan nilai.
Pelemahan juga mendominasi perdagangan di sejumlah bursa regional Asia dengan indeks Nikkei turun 2,96 persen ke posisi 64.254,00.
Indeks Shanghai melemah 0,97 persen ke posisi 3.941,39, sedangkan indeks Hang Seng turun 0,07 persen ke posisi 25.311,21.
Indeks Kospi mencatatkan pelemahan sebesar 3,99 persen ke posisi 6.562,72.
Berbeda dengan mayoritas bursa Asia, indeks Straits Times menguat 0,59 persen ke posisi 5.744,11.
- Penulis :
- Leon Weldrick




