HOME  ⁄  Nasional

Rachmat Pambudy Ingin Pekerjaan Hijau Jadi Ujung Tombak Penciptaan Lapangan Kerja Masa Depan

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Rachmat Pambudy Ingin Pekerjaan Hijau Jadi Ujung Tombak Penciptaan Lapangan Kerja Masa Depan
Foto: Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy saat memberikan dokumen terkait pekerjaan hijau kepada Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli di Gedung Bappenas, Jakarta, Rabu 2/9/2026 (sumber: ANTARA/Muhammad Baqir Idrus Alatas)

Pantau - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy menginginkan pekerjaan hijau atau green job menjadi ujung tombak penciptaan lapangan kerja pada masa depan.

Rachmat menyampaikan pandangan tersebut dalam Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) 2026 di Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Menurut Rachmat, pengembangan pekerjaan hijau diperlukan karena pola penciptaan lapangan kerja yang masih menggunakan kriteria lama dan mengabaikan aspek lingkungan dapat berkontribusi terhadap peningkatan suhu bumi.

“Mengapa saya ingin pekerjaan hijau menjadi ujung tombak daripada lapangan kerja di kemudian hari? Kalau kita masih menggunakan kriteria lama dengan lapangan kerja yang tidak hijau, bumi akan makin panas,” ungkap Rachmat.

Pekerjaan Hijau Dinilai Penting untuk Menekan Risiko Lingkungan

Rachmat menilai peningkatan suhu bumi dapat memicu serangkaian dampak terhadap kondisi alam dan lingkungan, termasuk meningkatnya risiko kebakaran hutan.

Pemanasan bumi juga dapat menyebabkan pencairan es di Kutub Utara dan Kutub Selatan yang kemudian berpotensi meningkatkan permukaan air laut.

Kenaikan permukaan laut selanjutnya dapat mengancam wilayah pesisir hingga menyebabkan pantai dan pulau-pulau di kawasan pesisir tenggelam.

Karena berbagai risiko tersebut, Rachmat menegaskan pengembangan pekerjaan hijau tidak hanya berkaitan dengan penciptaan lapangan pekerjaan baru, tetapi juga berperan dalam menjaga lingkungan dan menghadapi perubahan kondisi alam.

Salah satu langkah yang akan dilakukan Bappenas adalah meredefinisi konsep pekerjaan hijau agar sesuai dengan kepentingan Indonesia sekaligus kepentingan dunia dengan memperhatikan kondisi lingkungan hidup di Tanah Air.

Rachmat menilai pekerjaan hijau tidak hanya harus mampu melahirkan tenaga kerja baru, tetapi juga menghasilkan tenaga kerja yang lebih ramah terhadap lingkungan.

Tenaga kerja yang bekerja dengan memperhatikan aspek lingkungan tersebut, menurutnya, seharusnya memperoleh penghargaan atau imbalan yang lebih tinggi dibandingkan tenaga kerja lainnya.

“Pekerjaan hijau tidak hanya melahirkan tenaga kerja baru, tapi tenaga kerja yang lebih ramah lingkungan dan tenaga kerja yang seharusnya mendapat penghargaan yang lebih tinggi daripada yang didapat tenaga kerja yang lain,” kata Rachmat.

Rachmat menekankan pengembangan pekerjaan hijau perlu dilakukan sesegera mungkin karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kepentingan Indonesia, tetapi juga dunia.

“Kalau pekerjaan hijau tidak segera kita kembangkan, bukan hanya Indonesia yang susah, tapi dunia juga akan susah,” ungkapnya.

Bappenas Dorong Indikator dan Klasifikasi Sesuai Kondisi Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Rachmat mengkritisi Economic Complexity Index atau Indeks Kompleksitas Ekonomi karena dinilai belum memberikan perhatian yang memadai terhadap kondisi lingkungan maupun aspek pekerjaan hijau.

Karena itu, aspek lingkungan dan pekerjaan hijau diharapkan dapat menjadi indikator baru dalam penyusunan indeks mengenai pekerjaan hijau Indonesia.

Rachmat juga menekankan pentingnya Indonesia memiliki pendekatan dan klasifikasi yang sesuai dengan kondisi serta kepentingannya sendiri.

Menurutnya, Indonesia tidak seharusnya hanya mengikuti klasifikasi yang ditentukan negara maupun organisasi lain apabila klasifikasi tersebut membuat kondisi Indonesia terlihat buruk.

“Jangan kita didikte negara lain, jangan kita terdikte klasifikasi organisasi lain, sehingga kita seolah-olah buruk,” kata Rachmat.

Penulis :
Shila Glorya
FLOII 2026