
Pantau - Tren cetak pakaian sesuai permintaan atau print on demand menopang pertumbuhan industri pakaian dan tekstil Jawa Barat agar tetap berada di zona positif di tengah tekanan geopolitik dan pelemahan nilai tukar mata uang.
Direktur Moremedia Indonesia Bryan W Arsaha mengatakan permintaan jasa cetak digital pakaian skala kecil hingga menengah tumbuh sekitar tiga hingga empat persen meski kondisi ekonomi global mengalami perlambatan.
Pertumbuhan tersebut antara lain didorong maraknya kegiatan olahraga seperti lari serta aktivitas komunitas yang membutuhkan jersei dan pakaian khusus.
"Kalau yang di skala menengah dan kecil, permintaannya adalah berbasis print on demand atau custom printing. Itu yang sekarang sedang naik pesat. Setiap ada acara olahraga lari, kostum jerseinya baru. Komunitas otomotif juga punya kostumnya masing-masing. Permintaannya sangat tinggi," kata Bryan di sela pameran Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2026 di Bandung.
Teknologi Cetak Dorong Efisiensi Industri
Bryan mengatakan perkembangan print on demand turut didukung teknologi cetak langsung ke tekstil atau direct to garment yang semakin ramah lingkungan.
Teknologi tersebut antara lain menggunakan tinta eco-solvent serta menerapkan pengolahan kembali limbah kain sisa atau upcycle.
Pelaku industri pada saat bersamaan menghadapi kebutuhan efisiensi biaya akibat tekanan persaingan harga dengan produk dari negara lain seperti Vietnam dan Bangladesh.
Pameran IAPE 2026 menghadirkan 20 perusahaan dengan 50 merek teknologi mesin pakaian untuk membuka akses langsung bagi pelaku usaha lokal terhadap mesin dan bahan baku.
Pameran berskala nasional tersebut berlangsung di Bandung Convention Centre pada 2-5 September 2026 dengan menyasar pengusaha distro, merek lokal, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah.
Penyelenggaraan pameran di Bandung ditujukan untuk memangkas biaya operasional pelaku usaha daerah yang sebelumnya harus mengakses kebutuhan industri ke Jakarta.
Pendidikan Vokasi Dilibatkan Perkuat Industri
Pendiri IAPE Aulia Sunhandhyka mengatakan inovasi dalam industri pakaian juga melibatkan institusi pendidikan vokasi di Jawa Barat, termasuk SMK Tata Busana, ISBI, dan Islamic Fashion Institute (IFI) Bandung.
"Keterlibatan kalangan akademisi penting untuk memperkuat pertukaran pengetahuan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Dengan demikian, perkembangan bisnis apparel dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia," ujar Aulia.
Ketua Komunitas Praktisi Grafika Indonesia (Kopi Grafika) Usman Batubara menilai sektor percetakan memiliki peran penting dalam meningkatkan nilai jual berbagai produk kreatif, mulai dari pakaian hingga kemasan ekspor.
Usman mendorong pemerintah menginisiasi pembentukan unit percetakan dan dekorasi pakaian di tingkat desa atau kecamatan untuk memperluas daya serap pasar lokal.
"Lini cetak itu kebutuhan seumur hidup. Sekarang semua produk dikemas untuk meningkatkan nilai jual, dan di belakangnya selalu ada percetakan. Jika setiap kecamatan memiliki unit percetakan mandiri untuk memenuhi kebutuhan seragam atau sekolah di wilayahnya, ini bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat desa di Jawa Barat," tutur Usman.
IAPE 2026 juga menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung berupa live demo, 10 sesi talkshow bertajuk Apparel Talk dengan 15 narasumber, serta business matching.
Pameran tersebut menyasar ekosistem industri mulai dari pengusaha distro, perancang busana, toko pakaian daring, kalangan akademisi, hingga instansi pemerintah terkait.
- Penulis :
- Aditya Yohan




